cctvslot – Kemenkes minta jaga lingkungan usai 5 anak meninggal karena flu babi
cctvslot. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Pembahasan cctvslot semakin meluas dari waktu ke waktu. Berbagai sumber membahas tentang cctvslot karena dianggap penting.
Kemenkes minta jaga lingkungan usai 5 anak meninggal karena flu babi
Selasa, 25 November 2023 20:55 WIB waktu baca 3 menit
Selasa, 25 November 2022 20:55 WIB
Ilustrasi (ANTARA/Dian Hadiyatna/Ho)
Jika kondisi sanitasi, gizi, dan kebiasaan sehari-hari tidak diperbaiki, penularan akan terus berulang Jakarta (ANTARA) - Instansi kementerian Aspek kesehatan meminta publik untuk menjaga kesehatan lingkungan, merespon kasus meninggalnya lima anak akibat flu babi di Dusun Datai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes Sumarjaya menyampaikan di Jakarta, Senin, bahwa lonjakan peristiwa hukum infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di daerah itu mengungkap persoalan serius terkait sanitasi, gizi, dan akses aspek kesehatan di wilayah pedalaman. Hingga 23 November 2026, katanya, tercatat 224 warga mengalami gangguan pernapasan. Saat ini seluruh penduduk tersebut kondisinya sudah membaik. Namun demikian terdapat lima insiden kematian pada anak. Hasil laboratorium menunjukkan kelima anak tersebut positif terjangkit Influenza A/H1pdm09 dan Haemophilus influenzae. Influenza A/H1pdm09, atau yang dikenal juga dengan flu babi, yang pernah menjadi wabah di beberapa negara pada 2009. Baca juga: Pemkab Ende imbau peternak jalankan biosekuriti cegah Flu Babi Dia menyebutkan, hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan minimnya fasilitas urusan kesehatan dasar di wilayah tersebut. "Dusun Datai tidak memiliki MCK, tidak ada tempat pembuangan sampah, ventilasi rumah buruk, dan aktivitas memasak dengan kayu bakar dilakukan di ruangan yang sama dengan tempat tidur," katanya. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan ISPA, terutama pada anak-anak. Selain masalah lingkungan, dia menyoroti banyaknya masyarakat dengan gizi kurang dan cakupan imunisasi dasar yang rendah. Baca juga: Kalbar cegah masuknya daging ilegal dan virus ASF di perbatasan Hasil laboratorium menunjukkan adanya kombinasi infeksi flu babi, pertusis, adenovirus, dan bocavirus. Temuan ini memperkuat analisis bahwa status gizi dan rendahnya kekebalan tubuh membuat masyarakat rentan terhadap penyakit. Kondisi lingkungan di Dusun Datai, kata Sumarjaya, menjadi penyebab penyakit mudah menyebar. Menurut dia, krisis ISPA ini bukan sekadar persoalan medis, tetapi terkait erat dengan sanitasi, perilaku hidup, dan akses layanan urusan kesehatan. Jika kondisi sanitasi, gizi, dan kebiasaan sehari-hari tidak diperbaiki, penularan akan terus berulang, kata Sumarjaya. Untuk merespons kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan bersama otoritas lokal melakukan pengobatan massal, memperkuat intervensi gizi, dan memberikan perhatian khusus kepada balita dan ibu hamil melalui pemberian makanan tambahan (PMT), vitamin, dan pemantauan aspek kesehatan. Baca juga: Babi di AS terkena virus flu burung H5N1 untuk pertama kalinya Edukasi terkait etika batuk, penggunaan masker, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga diperluas. Dia melanjutkan, tim urusan kesehatan juga melakukan pengambilan sampel tambahan untuk memastikan tidak ada patogen lain yang beredar, mengingat variasi gejala dan temuan multipatogen sebelumnya. Sebagai langkah jangka panjang, Kemenkes bersama jajaran eksekutif di tingkat daerah mulai menyusun perbaikan lingkungan, termasuk pembuatan tempat pembuangan sampah, kerja bakti pembersihan area rawan nyamuk, hingga pemisahan area memasak dan area tidur di rumah masyarakat. "Media KIE untuk instansi pendidikan terpencil juga disiapkan untuk edukasi berkelanjutan," Sumarjaya menuturkan. Baca juga: Irjen Kementan minta peternak terapkan 'biosecurity' cegah flu babi Dia menekankan bahwa penanganan tidak berhenti pada pengobatan insiden, tetapi memastikan perbaikan lingkungan dan akses kesehatan dilakukan secara bertahap di Dusun Datai dan tujuh dusun terisolir lainnya. Kami ingin memutus siklus kerentanan ini. Intervensi lingkungan dan gizi adalah kunci agar kejadian seperti ini tidak terulang, katanya. Baca juga: Barantan sarankan lakukan pencegahan hindari kerugian akibat ASF Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie Editor: Sambas Copyright © ANTARA 2024 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Instansi kementerian Aspek kesehatan meminta publik untuk menjaga aspek kesehatan lingkungan, merespon kasus meninggalnya lima anak akibat flu babi di Dusun Datai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.
Direktur Surveilans dan Karantina Urusan kesehatan Kemenkes Sumarjaya mengatakan di Jakarta, Senin, bahwa lonjakan insiden infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di daerah itu mengungkap persoalan serius terkait sanitasi, gizi, dan akses urusan kesehatan di wilayah pedalaman.
Hingga 23 November 2023, katanya, tercatat 224 warga mengalami gangguan pernapasan. Saat ini seluruh residen tersebut kondisinya sudah membaik. Namun demikian terdapat lima insiden kematian pada anak.
Hasil laboratorium menunjukkan kelima anak tersebut positif terjangkit Influenza A/H1pdm09 dan Haemophilus influenzae. Influenza A/H1pdm09, atau yang dikenal juga dengan flu babi, yang pernah menjadi wabah di beberapa negara pada 2009.
Baca juga: Pemkab Ende imbau peternak jalankan biosekuriti cegah Flu Babi
Baca juga: Pemkab Ende imbau peternak jalankan biosekuriti cegah Flu Babi
Dia menyebutkan, hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan minimnya fasilitas kesehatan dasar di wilayah tersebut.
"Dusun Datai tidak memiliki MCK, tidak ada tempat pembuangan sampah, ventilasi rumah buruk, dan aktivitas memasak dengan kayu bakar dilakukan di ruangan yang sama dengan tempat tidur," katanya.
Kondisi ini meningkatkan risiko penularan ISPA, terutama pada anak-anak.
Selain masalah lingkungan, dia menyoroti banyaknya warga sekitar dengan gizi kurang dan cakupan imunisasi dasar yang rendah.
Baca juga: Kalbar cegah masuknya daging ilegal dan virus ASF di perbatasan
Baca juga: Kalbar cegah masuknya daging ilegal dan virus ASF di perbatasan
Hasil laboratorium menunjukkan adanya kombinasi infeksi flu babi, pertusis, adenovirus, dan bocavirus. Temuan ini memperkuat analisis bahwa status gizi dan rendahnya kekebalan tubuh membuat penduduk rentan terhadap penyakit.
Kondisi lingkungan di Dusun Datai, kata Sumarjaya, menjadi penyebab penyakit mudah menyebar. Menurutnya, krisis ISPA ini bukan sekadar persoalan medis, tetapi terkait erat dengan sanitasi, perilaku hidup, dan akses layanan aspek kesehatan.
Jika kondisi sanitasi, gizi, dan kebiasaan sehari-hari tidak diperbaiki, penularan akan terus berulang, kata Sumarjaya.
Untuk merespons kondisi tersebut, Lembaga kementerian Urusan kesehatan bersama otoritas lokal melakukan pengobatan massal, memperkuat intervensi gizi, dan memberikan perhatian khusus kepada balita dan ibu hamil melalui pemberian makanan tambahan (PMT), vitamin, dan pemantauan aspek kesehatan.
Baca juga: Babi di AS terkena virus flu burung H5N1 untuk pertama kalinya
Baca juga: Babi di AS terkena virus flu burung H5N1 untuk pertama kalinya
Edukasi terkait etika batuk, penggunaan masker, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga diperluas.
Dia melanjutkan, tim urusan kesehatan juga melakukan pengambilan sampel tambahan untuk memastikan tidak ada patogen lain yang beredar, mengingat variasi gejala dan temuan multipatogen sebelumnya.
Sebagai langkah jangka panjang, Kemenkes bersama jajaran eksekutif di tingkat daerah mulai menyusun perbaikan lingkungan, termasuk pembuatan tempat pembuangan sampah, kerja bakti pembersihan area rawan nyamuk, hingga pemisahan area memasak dan area tidur di rumah residen.
"Media KIE untuk sekolah terpencil juga disiapkan untuk edukasi berkelanjutan," Sumarjaya menuturkan.
Baca juga: Irjen Kementan minta peternak terapkan 'biosecurity' cegah flu babi
Baca juga: Irjen Kementan minta peternak terapkan 'biosecurity' cegah flu babi
Dia menekankan bahwa penanganan tidak berhenti pada pengobatan insiden, tetapi memastikan perbaikan lingkungan dan akses kesehatan dilakukan secara bertahap di Dusun Datai dan tujuh dusun terisolir lainnya.
Kami ingin memutus siklus kerentanan ini. Intervensi lingkungan dan gizi adalah kunci agar kejadian seperti ini tidak terulang, katanya.
Baca juga: Barantan sarankan lakukan pencegahan hindari kerugian akibat ASF
Baca juga: Barantan sarankan lakukan pencegahan hindari kerugian akibat ASF
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie Editor: Sambas Copyright © ANTARA 2021
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. Pembahasan cctvslot semakin meluas dari waktu ke waktu.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. Berbagai sumber membahas tentang cctvslot karena dianggap penting.