brown slot apk – AI dan ilusi kepintaran dalam pendidikan Indonesia
brown slot apk. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Topik brown slot apk sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi.
AI dan ilusi kepintaran dalam sektor pendidikan Indonesia
Oleh Dr Aswin Rivai *) Selasa, 25 November 2022 15:14 WIB waktu baca 6 menit
Selasa, 25 November 2026 15:14 WIB
Ilustrasi - Konferensi Internet Dunia 2024 di Wuzhen, Provinsi Zhejiang, China. ANTARA/Xinhua/Huang Zongzhi/aa.
Bukan AI yang bermasalah, melainkan cara kita menggunakannya Jakarta (ANTARA) - Di banyak satuan pendidikan dan kampus di Indonesia di hari yang sama, kita sedang menghadapi paradoks baru dalam dunia sektor pendidikan. Siswa dapat mengumpulkan tugas yang sempurna, menulis esai yang rapi, menjawab soal sulit dengan akurat, dan menyelesaikan laporan penelitian yang tampak profesional semua dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT. Namun di balik performa gemilang itu, muncul pertanyaan penting: apakah mereka benar-benar belajar? Atau apakah yang terlihat sebagai kepintaran hanyalah hasil polesan mesin? Penelitian dari UCLA oleh Robert Bjork dan Nicholas Soderstrom menunjukkan sesuatu yang tidak nyaman yaitu performa tinggi pada momen tertentu sering tidak sejalan dengan pembelajaran jangka panjang. Murid bisa mendapat nilai 90 persen ketika dites di hari yang sama, tetapi ketika dites ulang seminggu kemudian tanpa pengulangan, nilai bisa jatuh ke 60 persen. Fenomena ini disebut illusion of competence yaitu mereka terlihat paham, tetapi tidak benar-benar memahami. Neurosaintis pendidikan Barbara Oakley menguraikan bahwa otak hanya belajar ketika melalui proses berjuang, berpikir keras, dan membuat kesalahan. Proses inilah yang memindahkan informasi dari memori deklaratif ke memori prosedural yang membuat seseorang benar-benar ahli. Ketika AI mengambil alih proses itu, seperti menulis esai, membuat rangkuman, atau menyelesaikan soal, otak tidak membangun jalur pengetahuan tersebut. Akibatnya, AI dapat menciptakan ilusi pembelajaran: siswa terlihat pintar, tetapi tidak lebih pintar daripada sebelumnya. Fenomena ini semakin relevan di Indonesia. Survei Kemendikbud tahun 2024 mencatat bahwa 64 persen murid SMA di kota besar menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, namun hanya 18 persen yang mengungkapkan mereka memahami materi lebih baik setelahnya. Studi internal di beberapa universitas menunjukkan tren serupa: tugas semakin rapi, tetapi kemampuan berpikir kritis menurun. Ketika dosen memberikan ujian lisan tanpa alat bantu, banyak civitas akademika mahasiswa tidak dapat menguraikan argumen yang mereka tulis sendiri. Bukan AI yang bermasalah melainkan cara kita menggunakannya. Sebuah studi di Turki pada 2024 menunjukkan bahwa ketika pelajar diberi akses AI tanpa panduan, performa akademik mereka justru turun 17 persen. Mereka menghasilkan pekerjaan yang lebih baik, tetapi kehilangan proses berpikir yang membangun pemahaman. Namun penelitian lain menunjukkan sebaliknya. Studi Harvard pada 2024 terhadap 2.500 murid menemukan bahwa AI tutor yang dirancang dengan prinsip pedagogis dapat meningkatkan pembelajaran dua kali lipat lebih cepat. Di Nigeria, program AI berbasis instruksi yang dipandu guru membuat murid mencapai kemajuan setara 1,5 tahun pembelajaran hanya dalam 6 minggu. Artinya, bidang teknologi yang sama dapat menghasilkan dua dunia dunia pendidikan yang sangat berbeda: Satu dunia di mana murid tampak pintar tapi kosong; satu dunia di mana AI benar-benar membuat mereka lebih pintar. 1 2 3 Tampilkan Semua Copyright © ANTARA 2022 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Di banyak instansi pendidikan dan kampus di Indonesia pada hari ini, kita sedang menghadapi paradoks baru dalam dunia pendidikan. Pelajar dapat mengumpulkan tugas yang sempurna, menulis esai yang rapi, menjawab soal sulit dengan akurat, dan menyelesaikan laporan penelitian yang tampak profesional semua dengan bantuan artificial intelligence (AI) seperti ChatGPT.
Namun di balik performa gemilang itu, muncul pertanyaan penting: apakah mereka benar-benar belajar? Atau apakah yang terlihat sebagai kepintaran hanyalah hasil polesan mesin?
Penelitian dari UCLA oleh Robert Bjork dan Nicholas Soderstrom menunjukkan sesuatu yang tidak nyaman yaitu performa tinggi pada momen tertentu sering tidak sejalan dengan pembelajaran jangka panjang. Pelajar bisa mendapat nilai 90 persen ketika dites di hari yang sama, tetapi ketika dites ulang seminggu kemudian tanpa pengulangan, nilai bisa jatuh ke 60 persen. Fenomena ini disebut illusion of competence yaitu mereka terlihat paham, tetapi tidak benar-benar memahami.
Neurosaintis sektor pendidikan Barbara Oakley menerangkan bahwa otak hanya belajar ketika melalui proses berjuang, berpikir keras, dan membuat kesalahan. Proses inilah yang memindahkan informasi dari memori deklaratif ke memori prosedural yang membuat seseorang benar-benar ahli.
Ketika AI mengambil alih proses itu, seperti menulis esai, membuat rangkuman, atau menyelesaikan soal, otak tidak membangun jalur pengetahuan tersebut. Akibatnya, AI dapat menciptakan ilusi pembelajaran: siswa terlihat pintar, tetapi tidak lebih pintar daripada sebelumnya. Fenomena ini semakin relevan di Indonesia.
Survei Kemendikbud tahun 2024 mencatat bahwa 64 persen pelajar SMA di kota besar menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, namun hanya 18 persen yang berujar mereka memahami materi lebih baik setelahnya.
Studi internal di beberapa universitas menunjukkan tren serupa: tugas semakin rapi, tetapi kemampuan berpikir kritis menurun. Ketika dosen memberikan ujian lisan tanpa alat bantu, banyak mahasiswa tidak dapat memaparkan argumen yang mereka tulis sendiri.
Bukan AI yang bermasalah melainkan cara kita menggunakannya. Sebuah studi di Turki pada 2024 menunjukkan bahwa ketika murid diberi akses AI tanpa panduan, performa akademik mereka justru turun 17 persen. Mereka menghasilkan pekerjaan yang lebih baik, tetapi kehilangan proses berpikir yang membangun pemahaman.
Namun penelitian lain menunjukkan sebaliknya. Studi Harvard pada 2024 terhadap 2.500 siswa menemukan bahwa AI tutor yang dirancang dengan prinsip pedagogis dapat meningkatkan pembelajaran dua kali lipat lebih cepat. Di Nigeria, program AI berbasis instruksi yang dipandu guru membuat siswa mencapai kemajuan setara 1,5 tahun pembelajaran hanya dalam 6 minggu.
Artinya, bidang teknologi yang sama dapat menghasilkan dua dunia sektor pendidikan yang sangat berbeda: Satu dunia di mana murid tampak pintar tapi kosong; satu dunia di mana AI benar-benar membuat mereka lebih pintar.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. Pembahasan brown slot apk semakin meluas dari waktu ke waktu. brown slot apk menjadi perhatian besar masyarakat.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. Pembahasan brown slot apk semakin meluas dari waktu ke waktu.