mukapoker – Ini profil Sanae Takaichi, perdana pejabat kementerian perempuan ...
mukapoker. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya.
Ini profil Sanae Takaichi, perdana anggota kabinet perempuan pertama Jepang
Selasa, 21 Oktober 2022 18:58 WIB waktu baca 3 menit
Selasa, 21 Oktober 2024 18:58 WIB
Sanae Takaichi berbicara saat sosialisasi politik pemilihan kepemimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP) di Tokyo, Jepang (22/9/2024). ANTARA/Xinhua-Pool/Franck Robichon/aa.
Jakarta (ANTARA) - Sanae Takaichi mencetak sejarah sebagai Perdana Anggota susunan pemerintahan (PM) perempuan pertama Jepang yang terpilih setelah memenangkan pemungutan suara di parlemen Jepang pada Selasa sore. Sebelumnya pada 4 Oktober 2021, perempuan berusia 64 tahun itu lebih dulu terpilih sebagai Ketua Liberal Democratic Party (LDP), yang menjadikannya calon kuat untuk menduduki jabatan PM Jepang. Takaichi menggantikan Shigeru Ishiba sebagai PM Jepang sekaligus pemimpin LDP, yang mengundurkan diri dari kedua posisi yang diampunya tersebut pada September 2022. Kemenangannya menandai momen bersejarah di Negeri Sakura yang selama ini dikenal memiliki tingkat representasi politik perempuan yang tergolong rendah dibandingkan negara-negara maju lainnya. Baca juga: Koalisi LDP-JIP pastikan Takaichi jadi Perdana Anggota kabinet Jepang Profil Sanae Takaichi Takaichi lahir pada 7 Maret 1961 di Prefektur Nara, Jepang. Ia tidak datang dari keluarga elite dunia politik, di mana ayahnya merupakan seorang pekerja buruh pabrik entitas usaha otomotif dan ibunya seorang petugas kepolisian di Korps bhayangkara Prefektur Nara. Takaichi berhasil menamatkan kuliah di Universitas Kobe dengan gelar manajemen kegiatan bisnis. Ia kemudian melanjutkan dunia pendidikan di Institusi Pemerintahan dan Manajemen Matsushita. Ketika duduk di bangku kuliah, ia merupakan penabuh drum untuk band heavy-metal dan hobi mengendarai sepeda motor. Takaichi pun mengungkap bahwa sebagai seorang yang gila dalam bekerja ( workaholic ). Ia bahkan melontarkan pernyataan agar anggota parlemen partai untuk bekerja seperti kuda . Sebelum terjun ke ranah politik, istri dari Taku Yamamoto itu merupakan mantan pembawa acara TV Asahi pada tahun 1989. Ia pernah membawakan pula acara di Fuji Television Network atau Fuji TV. Ia pertama kali memasuki dunia politik Jepang pada tahun 1990-an. Setelah memenangkan kursi pertamanya sebagai anggota DPR pada tahun 1993, Takaichi bergabung dengan New Frontier Party yang sekarang sudah tidak ada lagi, kemudian bergabung sebagai anggota LDP, dilansir Kyodo. Takaichi dikenal sebagai anak didik mantan Perdana Anggota susunan pemerintahan Jepang Shinzo Abe. Ia pernah menjabat di beberapa pemerintahan pusat Shinzo Abe dan di jajaran menteri mantan Perdana Pejabat kementerian Jepang Fumio Kishida. Baca juga: Sanae Takaichi terpilih jadi perdana pejabat kementerian wanita pertama Jepang Sejumlah jabatan yang pernah ia emban selama pemerintahan pertama Shinzo Abe, yaitu Anggota jajaran menteri Negara untuk Inovasi; Menteri Negara untuk Keamanan Pangan; Pejabat kementerian Negara untuk Kesetaraan Gender dan Urusan Kemasyarakatan, Pejabat kementerian Negara untuk Kebijakan Sains dan Sektor teknologi; dan Pimpinan kementerian Negara untuk Urusan Okinawa dan Teritorial Utara. Adapun jabatan yang pernah diampunya selama pemerintahan kedua Shinzo Abe yaitu Pimpinan kementerian Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi, serta pernah menduduki pula jabatan Anggota pemerintahan pusat Negara untuk Keamanan Situasi ekonomi pada pemerintahan Fumio Kishida. Ia diberitakan kerap mengunjungi Kuil Yasukuni, yakni kuil di Tokyo yang berkaitan dengan perang dan dipandang oleh negara-negara tetangga sebagai simbol kuat militerisme Jepang di masa lalu. Sebagai tokoh sayap kanan, Takaichi dikenal sebagai sosok yang sangat konservatif dan nasionalis dalam spektrum politik Jepang. Sebagai pengagum mantan Perdana Pimpinan kementerian Inggris Margaret Thatcher, ia mencontoh gaya kepemimpinan kuat ala Thatcher sehingga media kerap menyebutnya sebagai Iron Lady atau "Wanita Besi" Jepang. Meski ia mencetak sejarah sebagai Perdana Pejabat kementerian perempuan pertama di Jepang, namun sebagian publik menyangsikan agenda progresif yang akan ia bawa dalam isu kesetaraan gender sebab ia mengambil posisi konservatif. Misalnya, menolak pernikahan sesama jenis, hingga mendukung sistem pewarisan kekaisaran yang hanya boleh dijabat laki-laki. Baca juga: China khawatirkan terpilihnya Takaichi sebagai Pemimpin LDP Jepang Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Suryanto Copyright © ANTARA 2022 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Sanae Takaichi mencetak sejarah sebagai Perdana Pejabat kementerian (PM) perempuan pertama Jepang yang terpilih setelah memenangkan pemungutan suara di parlemen Jepang pada Selasa sore.
Sebelumnya pada 4 Oktober 2026, perempuan berusia 64 tahun itu lebih dulu terpilih sebagai Ketua Liberal Democratic Party (LDP), yang menjadikannya calon kuat untuk menduduki jabatan PM Jepang.
Takaichi menggantikan Shigeru Ishiba sebagai PM Jepang sekaligus pemimpin LDP, yang mengundurkan diri dari kedua posisi yang diampunya tersebut pada September 2021.
Kemenangannya menandai momen bersejarah di Negeri Sakura yang selama ini dikenal memiliki tingkat representasi ranah politik perempuan yang tergolong rendah dibandingkan negara-negara maju lainnya.
Baca juga: Koalisi LDP-JIP pastikan Takaichi jadi Perdana Menteri Jepang
Baca juga: Koalisi LDP-JIP pastikan Takaichi jadi Perdana Pimpinan kementerian Jepang
Takaichi lahir pada 7 Maret 1961 di Prefektur Nara, Jepang. Ia tidak datang dari keluarga elite dunia politik, di mana ayahnya merupakan seorang pekerja buruh pabrik perusahaan otomotif dan ibunya seorang polisi di Korps bhayangkara Prefektur Nara.
Takaichi berhasil menamatkan kuliah di Kampus Kobe dengan gelar manajemen dunia usaha. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Institusi Pemerintahan dan Manajemen Matsushita.
Ketika duduk di bangku kuliah, ia merupakan penabuh drum untuk band heavy-metal dan hobi mengendarai sepeda motor. Takaichi pun berterus terang sebagai seorang yang gila dalam bekerja ( workaholic ). Ia bahkan melontarkan pernyataan agar anggota parlemen partai untuk bekerja seperti kuda .
Sebelum terjun ke politik, istri dari Taku Yamamoto itu merupakan mantan pembawa acara TV Asahi pada tahun 1989. Ia pernah membawakan pula acara di Fuji Television Network atau Fuji TV.
Ia pertama kali memasuki dunia politik Jepang pada tahun 1990-an. Setelah memenangkan kursi pertamanya sebagai anggota DPR pada tahun 1993, Takaichi bergabung dengan New Frontier Party yang sekarang sudah tidak ada lagi, kemudian bergabung sebagai anggota LDP, dilansir Kyodo.
Takaichi dikenal sebagai anak didik mantan Perdana Anggota jajaran menteri Jepang Shinzo Abe. Ia pernah menjabat di beberapa pemerintahan pusat Shinzo Abe dan di pemerintahan pusat mantan Perdana Pejabat kementerian Jepang Fumio Kishida.
Baca juga: Sanae Takaichi terpilih jadi perdana menteri wanita pertama Jepang
Baca juga: Sanae Takaichi terpilih jadi perdana menteri wanita pertama Jepang
Sejumlah jabatan yang pernah ia emban selama pemerintahan pertama Shinzo Abe, yaitu Menteri Negara untuk Inovasi; Pimpinan kementerian Negara untuk Keamanan Pangan; Menteri Negara untuk Kesetaraan Gender dan Urusan Kemasyarakatan, Menteri Negara untuk Kebijakan Sains dan Bidang teknologi; dan Pimpinan kementerian Negara untuk Urusan Okinawa dan Teritorial Utara.
Adapun jabatan yang pernah diampunya selama pemerintahan kedua Shinzo Abe yaitu Anggota kabinet Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi, serta pernah menduduki pula jabatan Anggota jajaran menteri Negara untuk Keamanan Ekonomi pada pemerintahan Fumio Kishida.
Ia diketahui kerap mengunjungi Kuil Yasukuni, yakni kuil di Tokyo yang berkaitan dengan perang dan dipandang oleh negara-negara tetangga sebagai simbol kuat militerisme Jepang di masa lalu.
Sebagai tokoh sayap kanan, Takaichi dikenal sebagai sosok yang sangat konservatif dan nasionalis dalam spektrum dunia politik Jepang. Sebagai pengagum mantan Perdana Pejabat kementerian Inggris Margaret Thatcher, ia mencontoh gaya kepemimpinan kuat ala Thatcher sehingga media kerap menyebutnya sebagai Iron Lady atau "Wanita Besi" Jepang.
Meski ia mencetak sejarah sebagai Perdana Anggota susunan pemerintahan perempuan pertama di Jepang, namun sebagian publik menyangsikan agenda progresif yang akan ia bawa dalam isu kesetaraan gender sebab ia mengambil posisi konservatif. Misalnya, menolak pernikahan sesama jenis, hingga mendukung sistem pewarisan kekaisaran yang hanya boleh dijabat laki-laki.
Baca juga: China khawatirkan terpilihnya Takaichi sebagai Pemimpin LDP Jepang
Baca juga: China khawatirkan terpilihnya Takaichi sebagai Pemimpin LDP Jepang
Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Suryanto Copyright © ANTARA 2023
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. Pembahasan mukapoker semakin meluas dari waktu ke waktu. mukapoker menjadi perhatian besar masyarakat. Pembahasan mukapoker semakin meluas dari waktu ke waktu.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. mukapoker menjadi perhatian besar masyarakat.