Tompel69 - Obat Gacor Terlaris Login Dan Daftar Tompel69

Kumpulan artikel otomatis dengan berbagai topik.

panda168 – Dampak makan berlebihan pada anak, gangguan kesehatan hingga psiko...

Ditulis ulang otomatis • Keyword utama: panda168

panda168. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Pembahasan panda168 semakin meluas dari waktu ke waktu.

Dampak makan berlebihan pada anak, gangguan urusan kesehatan hingga psikologis

Jumat, 21 November 2023 13:11 WIB waktu baca 4 menit

Jumat, 21 November 2022 13:11 WIB

Ilustrasi foto kegemukan pada anak (-)

Jakarta (ANTARA) - Setiap orang tua pasti ingin anaknya mendapatkan gizi yang cukup untuk mendukung tumbuh kembangnya. Banyak orang tua merasa tenang dan bahagia saat anak makan dengan lahap, karena pada usia tertentu anak sering mengalami GTM atau menjadi picky eater . Namun, terlalu banyak makan justru dapat menimbulkan masalah aspek kesehatan dan psikologis pada anak. Prinsip segala sesuatu yang berlebihan tidak baik juga berlaku dalam urusan makan. Ketika asupan kalori melampaui kebutuhan tubuh, berbagai risiko dapat muncul dalam jangka pendek maupun panjang bagi anak. Berikut keterangan mengenai dampak buruk yang dapat terjadi apabila anak terlalu banyak makan. Dampak pada kesehatan 1. Obesitas dan kelebihan berat badan Dampak urusan kesehatan yang paling terlihat dari makan berlebihan adalah kenaikan berat badan yang tidak sehat. Kalori yang tidak terpakai akan disimpan sebagai lemak, sehingga memicu obesitas. Kondisi ini perlu diwaspadai karena obesitas pada masa kanak-kanak bisa berlanjut sampai dewasa. 2. Kolesterol tinggi Selain faktor genetik, pola makan tinggi lemak jenuh dan natrium dapat meningkatkan kadar kolesterol anak. Konsumsi makanan yang berlebihan, terutama makanan olahan, gorengan, dan tinggi garam, bisa menjadi pemicu utamanya. 3. Tekanan darah tinggi Anak yang mengalami obesitas memiliki risiko lebih besar terkena hipertensi. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah di usia dewasa muda. Dengan mengatur pola makan, membatasi asupan garam, dan menjaga berat badan ideal, menjadi hal yang perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan. 4. Diabetes tipe 2 Kelebihan berat badan dan pola makan tinggi gula membuat anak rentan mengalami diabetes tipe 2. Padahal, kondisi ini lebih banyak ditemukan pada orang dewasa. Penyakit ini dapat menimbulkan kerusakan pada mata, ginjal, hingga saraf. Oleh sebab itu perlu dicegah sejak dini. 5. Asma Penumpukan lemak berlebih pada anak obesitas, dapat memicu peradangan kronis yang berpengaruh pada sistem pernapasan. Hal ini yang membuat risiko asma jadi meningkat pada anak dengan berat badan berlebih. 6. Radang sendi dan patah tulang Beban tubuh yang terlalu berat dapat memberikan tekanan tambahan pada tulang dan sendi yang masih berkembang. Akibatnya, anak lebih rentan mengalami nyeri sendi maupun cedera seperti patah tulang. 7. Gangguan tidur Obesitas berkaitan erat dengan sleep apnea , yaitu kondisi berhentinya napas saat tidur. Gangguan ini menyebabkan kualitas tidur menurun dan dapat mengganggu konsentrasi serta proses pertumbuhan anak. 8. Masalah pencernaan Makan berlebihan dapat memicu berbagai masalah pencernaan, seperti sembelit karena kurang serat, kembung, sakit perut, hingga naiknya asam lambung akibat perut yang terlalu penuh. Selain itu, anak dengan tekanan darah dan kolesterol tinggi, berisiko mengalami penyakit jantung dan stroke di kemudian hari, akibat penumpukan plak pada pembuluh darah. Dampak pada psikologis dan kemasyarakatan 1. Gangguan citra tubuh Anak dengan kelebihan berat badan atau gemuk, lebih rentan menjadi sasaran ejekan dan penampilan kurang menarik. Hal ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan membuat mereka memiliki citra tubuh yang negatif. 2. Risiko depresi dan kecemasan Karena citra tubuh yang negatif, bisa menimbulkan perasaan minder pada anak. Sehingga, anak berisiko mengalami gangguan kecemasan maupun depresi. 3. Menurunnya kualitas hidup Anak yang mengalami obesitas cenderung kurang aktif dan sering menghindari aktivitas fisik. Kondisi ini dapat memperburuk kesehatan serta membatasi interaksi kemasyarakatan mereka dengan teman atau orang sekitar. Dengan berbagai dampak tersebut, o rang tua perlu memastikan anak dapat gizi seimbang sesuai kebutuhan usia dan aktivitasnya. Pola dan porsi makan yang sehat, pembatasan makanan tinggi kalori, serta kebiasaan berolahraga atau melakukan aktivitas yang disukai anak, menjadi salah satu cara proses tumbuh kembang anak yang optimal. Dengan cara yang tepat, anak tidak hanya tumbuh sehat secara fisik, tetapi juga memiliki kualitas hidup yang baik dan kepercayaan diri yang positif. Baca juga: Diabetes tak selalu sama, ini perbedaan tiap jenisnya Baca juga: Cara mendiagnosis diabetes dan kapan harus periksa ke tenaga medis? Baca juga: Mitos dan fakta tentang diabetes Pewarta: Putri Atika Chairulia Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2024 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Jakarta (ANTARA) - Setiap orang tua pasti ingin anaknya mendapatkan gizi yang cukup untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Banyak orang tua merasa tenang dan bahagia saat anak makan dengan lahap, karena pada usia tertentu anak sering mengalami GTM atau menjadi picky eater .

Namun, terlalu banyak makan justru dapat menimbulkan masalah aspek kesehatan dan psikologis pada anak.

Prinsip segala sesuatu yang berlebihan tidak baik juga berlaku dalam urusan makan. Ketika asupan kalori melampaui kebutuhan tubuh, berbagai risiko dapat muncul secara jangka pendek maupun panjang bagi anak.

Berikut klarifikasi mengenai dampak buruk yang dapat terjadi apabila anak terlalu banyak makan.

1. Obesitas dan kelebihan berat badan

Dampak aspek kesehatan yang paling terlihat dari makan berlebihan adalah kenaikan berat badan yang tidak sehat.

Kalori yang tidak terpakai akan disimpan sebagai lemak, sehingga memicu obesitas. Kondisi ini perlu diwaspadai karena obesitas pada masa kanak-kanak bisa berlanjut sampai dewasa.

Selain faktor genetik, pola makan tinggi lemak jenuh dan natrium dapat meningkatkan kadar kolesterol anak.

Konsumsi makanan yang berlebihan, terutama makanan olahan, gorengan, dan tinggi garam, bisa menjadi pemicu utamanya.

Anak yang mengalami obesitas memiliki risiko lebih besar terkena hipertensi. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah di usia dewasa muda.

Dengan mengatur pola makan, membatasi asupan garam, dan menjaga berat badan ideal, menjadi hal yang perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan.

Kelebihan berat badan dan pola makan tinggi gula membuat anak rentan mengalami diabetes tipe 2. Padahal, kondisi ini lebih banyak ditemukan pada orang dewasa.

Penyakit ini dapat menimbulkan kerusakan pada mata, ginjal, hingga saraf. Oleh sebab itu perlu dicegah sejak dini.

Penumpukan lemak berlebih pada anak obesitas, dapat memicu peradangan kronis yang berpengaruh pada sistem pernapasan. Hal ini yang membuat risiko asma jadi meningkat pada anak dengan berat badan berlebih.

6. Radang sendi dan patah tulang

Beban tubuh yang terlalu berat dapat memberikan tekanan tambahan pada tulang dan sendi yang masih berkembang. Akibatnya, anak lebih rentan mengalami nyeri sendi maupun cedera seperti patah tulang.

Obesitas berkaitan erat dengan sleep apnea , yaitu kondisi berhentinya napas saat tidur. Gangguan ini menyebabkan kualitas tidur menurun dan dapat mengganggu konsentrasi serta proses pertumbuhan anak.

Makan berlebihan dapat memicu berbagai masalah pencernaan, seperti sembelit karena kurang serat, kembung, sakit perut, hingga naiknya asam lambung akibat perut yang terlalu penuh.

Selain itu, anak dengan tekanan darah dan kolesterol tinggi, berisiko mengalami penyakit jantung dan stroke di kemudian hari, akibat penumpukan plak pada pembuluh darah.

Dampak pada psikologis dan sosial

Anak dengan kelebihan berat badan atau gemuk, lebih rentan menjadi sasaran ejekan dan penampilan kurang menarik. Hal ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan membuat mereka memiliki citra tubuh yang negatif.

2. Risiko depresi dan kecemasan

Karena citra tubuh yang negatif, bisa menimbulkan perasaan minder pada anak. Sehingga, anak berisiko mengalami gangguan kecemasan maupun depresi.

Anak yang mengalami obesitas cenderung kurang aktif dan sering menghindari aktivitas fisik. Kondisi ini dapat memperburuk urusan kesehatan serta membatasi interaksi kemasyarakatan mereka dengan teman atau orang sekitar.

Dengan berbagai dampak tersebut, o rang tua perlu memastikan anak dapat gizi seimbang sesuai kebutuhan usia dan aktivitasnya.

Pola dan porsi makan yang sehat, pembatasan makanan tinggi kalori, serta kebiasaan berolahraga atau melakukan aktivitas yang disukai anak, menjadi salah satu cara proses tumbuh kembang anak yang optimal.

Dengan cara yang tepat, anak tidak hanya tumbuh sehat secara fisik, tetapi juga memiliki kualitas hidup yang baik dan kepercayaan diri yang positif.

Baca juga: Diabetes tak selalu sama, ini perbedaan tiap jenisnya

Baca juga: Diabetes tak selalu sama, ini perbedaan tiap jenisnya

Baca juga: Cara mendiagnosis diabetes dan kapan harus periksa ke dokter?

Baca juga: Cara mendiagnosis diabetes dan kapan harus periksa ke dokter?

Baca juga: Mitos dan fakta tentang diabetes

Baca juga: Mitos dan fakta tentang diabetes

Pewarta: Putri Atika Chairulia Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2027

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. panda168 menjadi perhatian besar masyarakat.

Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. Berbagai sumber membahas tentang panda168 karena dianggap penting. Topik panda168 sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi.