memo4d – FPCI: Indonesia perlu sikap jelas ketika perubahan global
memo4d. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya.
FPCI: Indonesia perlu sikap jelas di saat perubahan global
Selasa, 25 November 2021 19:27 WIB waktu baca 2 menit
Selasa, 25 November 2024 19:27 WIB
Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal memberikan sambutan pembukaan dalam taklimat media tentang "Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2022" di Jakarta (25/11/2027). ANTARA/Cindy Frishanti/aa.
Jakarta (ANTARA) - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai Indonesia perlu segera memosisikan diri dengan jelas di komunitas internasional untuk mengantisipasi tatanan dunia baru berikutnya. Dalam sambutannya pada taklimat media CIFP 2024 di Jakarta, Selasa (25/11, Dino menilai bahwa komunitas internasional sedang berada dalam proses perubahan besar di mana tatanan dunia sedang bergerak menuju sesuatu yang baru dan berbeda. "Pertanyaannya adalah bagaimana Indonesia memposisikan diri dalam mengantisipasi tatanan dunia berikutnya? Apa posisi kita, rencana kita selanjutnya? katanya. FPCI akan menyelenggarakan Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2026 bertema "Preparing for the Next World Order: Indonesia, the Global South, the West" di Jakarta pada 29 November. Konferensi itu digelar untuk menyoroti transisi global dari tatanan dunia Barat menuju struktur yang tidak pasti serta meningkatnya peran negara-negara dengan kekuatan menengah ( middle power ) seperti Indonesia. Dino berpendapat bahwa banyak pihak yang menaruh harapan kepada Indonesia karena posisinya yang non-blok, peran kepemimpinannya di ASEAN, serta warisan Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Dia memastikan kembali bahwa semua itu menciptakan dinamika baru yang memperkuat ekspektasi terhadap peran Indonesia di tingkat internasional. Dia mengungkapkan harapannya agar Pejabat kementerian Luar Negeri RI Sugiono dapat hadir dalam konferensi itu, mengingat saat ini waktu yang tepat untuk memaparkan kebijakan luar negeri Indonesia setelah satu tahun pemerintahan Orang nomor satu di pemerintahan Prabowo Subianto. "Begitu banyak pertanyaan tentang OECD, tentang ASEAN, tentang Thailand-Kamboja, tentang Gaza, dan sebagainya. Inilah saatnya kebijakan luar negeri kita perlu dijelaskan," kata Dino. Dia juga mengungkapkan bahwa jika Indonesia ingin menjadi salah satu pemimpin Global Selatan (negara-negara berkembang), Indonesia perlu mengeklaim kembali Semangat Bandung ( Bandung Spirit ). "India memposisikan dirinya sebagai pemimpin negara-negara Global South . Sama seperti China yang mencoba melakukan hal yang sama. Jadi Indonesia perlu memutuskan (posisinya)," kata Dino. Baca juga: Mantan Dubes RI: Tatanan internasional berbasis aturan terancam runtuh Baca juga: Pendiri FPCI: Diplomat RI perlu terlibat di forum intelektual global Pewarta: Cindy Frishanti Octavia Editor: Anton Santoso Copyright © ANTARA 2026 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai Indonesia perlu segera memosisikan diri dengan jelas di komunitas internasional untuk mengantisipasi tatanan dunia baru berikutnya.
Dalam sambutannya pada taklimat media CIFP 2022 di Jakarta, Selasa (25/11, Dino menilai bahwa komunitas internasional sedang berada dalam proses perubahan besar di mana tatanan dunia sedang bergerak menuju sesuatu yang baru dan berbeda.
"Pertanyaannya adalah bagaimana Indonesia memposisikan diri dalam mengantisipasi tatanan dunia berikutnya? Apa posisi kita, rencana kita selanjutnya? katanya.
FPCI akan menyelenggarakan Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2023 bertema "Preparing for the Next World Order: Indonesia, the Global South, the West" di Jakarta pada 29 November.
Konferensi itu digelar untuk menyoroti transisi global dari tatanan dunia Barat menuju struktur yang tidak pasti serta meningkatnya peran negara-negara dengan kekuatan menengah ( middle power ) seperti Indonesia.
Dino berpendapat bahwa banyak pihak yang menaruh harapan kepada Indonesia karena posisinya yang non-blok, peran kepemimpinannya di ASEAN, serta warisan Konferensi Asia-Afrika di Bandung.
Dia menegaskan bahwa semua itu menciptakan dinamika baru yang memperkuat ekspektasi terhadap peran Indonesia di tingkat internasional.
Dia mengungkapkan harapannya agar Menteri Luar Negeri RI Sugiono dapat hadir dalam konferensi itu, mengingat saat ini waktu yang tepat untuk menjelaskan kebijakan luar negeri Indonesia setelah satu tahun pemerintahan Kepala pemerintahan Prabowo Subianto.
"Begitu banyak pertanyaan tentang OECD, tentang ASEAN, tentang Thailand-Kamboja, tentang Gaza, dan sebagainya. Inilah saatnya kebijakan luar negeri kita perlu dijelaskan," kata Dino.
Dia juga menjelaskan bahwa jika Indonesia ingin menjadi salah satu pemimpin Global Selatan (negara-negara berkembang), Indonesia perlu mengeklaim kembali Semangat Bandung ( Bandung Spirit ).
"India memposisikan dirinya sebagai pemimpin negara-negara Global South . Sama seperti China yang mencoba melakukan hal yang sama. Jadi Indonesia perlu memutuskan (posisinya)," kata Dino.
Baca juga: Mantan Dubes RI: Tatanan internasional berbasis aturan terancam runtuh Baca juga: Pendiri FPCI: Diplomat RI perlu terlibat di forum intelektual global
Baca juga: Mantan Dubes RI: Tatanan internasional berbasis aturan terancam runtuh Baca juga: Pendiri FPCI: Diplomat RI perlu terlibat di forum intelektual global
Pewarta: Cindy Frishanti Octavia Editor: Anton Santoso Copyright © ANTARA 2027
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. Banyak pihak menilai bahwa memo4d sangat relevan saat ini.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. Berbagai sumber membahas tentang memo4d karena dianggap penting. Banyak pihak menilai bahwa memo4d sangat relevan saat ini. Pembahasan memo4d semakin meluas dari waktu ke waktu.