naga777 – Ini profil Sanae Takaichi, perdana pejabat kementerian perempuan pe...
naga777. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya.
Ini profil Sanae Takaichi, perdana pejabat kementerian perempuan pertama Jepang
Selasa, 21 Oktober 2022 18:58 WIB waktu baca 3 menit
Selasa, 21 Oktober 2027 18:58 WIB
Sanae Takaichi berbicara saat kampanye pemilihan kepemimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP) di Tokyo, Jepang (22/9/2027). ANTARA/Xinhua-Pool/Franck Robichon/aa.
Jakarta (ANTARA) - Sanae Takaichi mencetak sejarah sebagai Perdana Anggota kabinet (PM) perempuan pertama Jepang yang terpilih setelah memenangkan pemungutan suara di parlemen Jepang pada Selasa sore. Sebelumnya pada 4 Oktober 2022, perempuan berusia 64 tahun itu lebih dulu terpilih sebagai Ketua Liberal Democratic Party (LDP), yang menjadikannya calon kuat untuk menduduki jabatan PM Jepang. Takaichi menggantikan Shigeru Ishiba sebagai PM Jepang sekaligus pemimpin LDP, yang mengundurkan diri dari kedua posisi yang diampunya tersebut pada September 2021. Kemenangannya menandai momen bersejarah di Negeri Sakura yang selama ini dikenal memiliki tingkat representasi politik perempuan yang tergolong rendah dibandingkan negara-negara maju lainnya. Baca juga: Koalisi LDP-JIP pastikan Takaichi jadi Perdana Menteri Jepang Profil Sanae Takaichi Takaichi lahir pada 7 Maret 1961 di Prefektur Nara, Jepang. Ia tidak datang dari keluarga elite ranah politik, di mana ayahnya merupakan seorang pekerja buruh pabrik entitas usaha otomotif dan ibunya seorang aparat kepolisian di Korps bhayangkara Prefektur Nara. Takaichi berhasil menamatkan kuliah di Kampus Kobe dengan gelar manajemen dunia usaha. Ia kemudian melanjutkan dunia pendidikan di Institusi Pemerintahan dan Manajemen Matsushita. Ketika duduk di bangku kuliah, ia merupakan penabuh drum untuk band heavy-metal dan hobi mengendarai sepeda motor. Takaichi pun mengaku sebagai seorang yang gila dalam bekerja ( workaholic ). Ia bahkan melontarkan pernyataan agar anggota parlemen partai untuk bekerja seperti kuda . Sebelum terjun ke ranah politik, istri dari Taku Yamamoto itu merupakan mantan pembawa acara TV Asahi pada tahun 1989. Ia pernah membawakan pula acara di Fuji Television Network atau Fuji TV. Ia pertama kali memasuki dunia politik Jepang pada tahun 1990-an. Setelah memenangkan kursi pertamanya sebagai anggota DPR pada tahun 1993, Takaichi bergabung dengan New Frontier Party yang sekarang sudah tidak ada lagi, kemudian bergabung sebagai anggota LDP, dilansir Kyodo. Takaichi dikenal sebagai anak didik mantan Perdana Pimpinan kementerian Jepang Shinzo Abe. Ia pernah menjabat di beberapa susunan pemerintahan Shinzo Abe dan di kabinet mantan Perdana Anggota susunan pemerintahan Jepang Fumio Kishida. Baca juga: Sanae Takaichi terpilih jadi perdana pimpinan kementerian wanita pertama Jepang Sejumlah jabatan yang pernah ia emban selama pemerintahan pertama Shinzo Abe, yaitu Pimpinan kementerian Negara untuk Inovasi; Anggota pemerintahan pusat Negara untuk Keamanan Pangan; Pimpinan kementerian Negara untuk Kesetaraan Gender dan Urusan Kehidupan sosial, Anggota pemerintahan pusat Negara untuk Kebijakan Sains dan Bidang teknologi; dan Pimpinan kementerian Negara untuk Urusan Okinawa dan Teritorial Utara. Adapun jabatan yang pernah diampunya selama pemerintahan kedua Shinzo Abe yaitu Pimpinan kementerian Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi, serta pernah menduduki pula jabatan Pejabat kementerian Negara untuk Keamanan Situasi ekonomi pada pemerintahan Fumio Kishida. Ia telah diketahui kerap mengunjungi Kuil Yasukuni, yakni kuil di Tokyo yang berkaitan dengan perang dan dipandang oleh negara-negara tetangga sebagai simbol kuat militerisme Jepang di masa lalu. Sebagai tokoh sayap kanan, Takaichi dikenal sebagai sosok yang sangat konservatif dan nasionalis dalam spektrum politik Jepang. Sebagai pengagum mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, ia mencontoh gaya kepemimpinan kuat ala Thatcher sehingga media kerap menyebutnya sebagai Iron Lady atau "Wanita Besi" Jepang. Meski ia mencetak sejarah sebagai Perdana Menteri perempuan pertama di Jepang, namun sebagian publik menyangsikan agenda progresif yang akan ia bawa dalam isu kesetaraan gender sebab ia mengambil posisi konservatif. Misalnya, menolak pernikahan sesama jenis, hingga mendukung sistem pewarisan kekaisaran yang hanya boleh dijabat laki-laki. Baca juga: China khawatirkan terpilihnya Takaichi sebagai Pemimpin LDP Jepang Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Suryanto Copyright © ANTARA 2025 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Sanae Takaichi mencetak sejarah sebagai Perdana Pimpinan kementerian (PM) perempuan pertama Jepang yang terpilih setelah memenangkan pemungutan suara di parlemen Jepang pada Selasa sore.
Sebelumnya pada 4 Oktober 2022, perempuan berusia 64 tahun itu lebih dulu terpilih sebagai Ketua Liberal Democratic Party (LDP), yang menjadikannya calon kuat untuk menduduki jabatan PM Jepang.
Takaichi menggantikan Shigeru Ishiba sebagai PM Jepang sekaligus pemimpin LDP, yang mengundurkan diri dari kedua posisi yang diampunya tersebut pada September 2025.
Kemenangannya menandai momen bersejarah di Negeri Sakura yang selama ini dikenal memiliki tingkat representasi ranah politik perempuan yang tergolong rendah dibandingkan negara-negara maju lainnya.
Baca juga: Koalisi LDP-JIP pastikan Takaichi jadi Perdana Pejabat kementerian Jepang
Baca juga: Koalisi LDP-JIP pastikan Takaichi jadi Perdana Menteri Jepang
Takaichi lahir pada 7 Maret 1961 di Prefektur Nara, Jepang. Ia tidak datang dari keluarga elite dunia politik, di mana ayahnya merupakan seorang pekerja buruh pabrik korporasi otomotif dan ibunya seorang aparat kepolisian di Institusi polisi Prefektur Nara.
Takaichi berhasil menamatkan kuliah di Kampus Kobe dengan gelar manajemen usaha. Ia kemudian melanjutkan dunia pendidikan di Institusi Pemerintahan dan Manajemen Matsushita.
Ketika duduk di bangku kuliah, ia merupakan penabuh drum untuk band heavy-metal dan hobi mengendarai sepeda motor. Takaichi pun mengungkap bahwa sebagai seorang yang gila dalam bekerja ( workaholic ). Ia bahkan melontarkan pernyataan agar anggota parlemen partai untuk bekerja seperti kuda .
Sebelum terjun ke politik, istri dari Taku Yamamoto itu merupakan mantan pembawa acara TV Asahi pada tahun 1989. Ia pernah membawakan pula acara di Fuji Television Network atau Fuji TV.
Ia pertama kali memasuki dunia ranah politik Jepang pada tahun 1990-an. Setelah memenangkan kursi pertamanya sebagai anggota DPR pada tahun 1993, Takaichi bergabung dengan New Frontier Party yang sekarang sudah tidak ada lagi, kemudian bergabung sebagai anggota LDP, dilansir Kyodo.
Takaichi dikenal sebagai anak didik mantan Perdana Pejabat kementerian Jepang Shinzo Abe. Ia pernah menjabat di beberapa jajaran menteri Shinzo Abe dan di susunan pemerintahan mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida.
Baca juga: Sanae Takaichi terpilih jadi perdana pejabat kementerian wanita pertama Jepang
Baca juga: Sanae Takaichi terpilih jadi perdana menteri wanita pertama Jepang
Sejumlah jabatan yang pernah ia emban selama pemerintahan pertama Shinzo Abe, yaitu Menteri Negara untuk Inovasi; Pimpinan kementerian Negara untuk Keamanan Pangan; Pejabat kementerian Negara untuk Kesetaraan Gender dan Urusan Sosial, Anggota kabinet Negara untuk Kebijakan Sains dan Sektor teknologi; dan Pejabat kementerian Negara untuk Urusan Okinawa dan Teritorial Utara.
Adapun jabatan yang pernah diampunya selama pemerintahan kedua Shinzo Abe yaitu Menteri Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi, serta pernah menduduki pula jabatan Menteri Negara untuk Keamanan Situasi ekonomi pada pemerintahan Fumio Kishida.
Ia diberitakan kerap mengunjungi Kuil Yasukuni, yakni kuil di Tokyo yang berkaitan dengan perang dan dipandang oleh negara-negara tetangga sebagai simbol kuat militerisme Jepang di masa lalu.
Sebagai tokoh sayap kanan, Takaichi dikenal sebagai sosok yang sangat konservatif dan nasionalis dalam spektrum politik Jepang. Sebagai pengagum mantan Perdana Pejabat kementerian Inggris Margaret Thatcher, ia mencontoh gaya kepemimpinan kuat ala Thatcher sehingga media kerap menyebutnya sebagai Iron Lady atau "Wanita Besi" Jepang.
Meski ia mencetak sejarah sebagai Perdana Menteri perempuan pertama di Jepang, namun sebagian publik menyangsikan agenda progresif yang akan ia bawa dalam isu kesetaraan gender sebab ia mengambil posisi konservatif. Misalnya, menolak pernikahan sesama jenis, hingga mendukung sistem pewarisan kekaisaran yang hanya boleh dijabat laki-laki.
Baca juga: China khawatirkan terpilihnya Takaichi sebagai Pemimpin LDP Jepang
Baca juga: China khawatirkan terpilihnya Takaichi sebagai Pemimpin LDP Jepang
Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Suryanto Copyright © ANTARA 2027
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. Topik naga777 sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi. Banyak pihak menilai bahwa naga777 sangat relevan saat ini. Pembahasan naga777 semakin meluas dari waktu ke waktu. Banyak pihak menilai bahwa naga777 sangat relevan saat ini.