rumahbandar – Sosok Saleh Aljafarawi, Jurnalis Palestina yang tewas di Gaza
rumahbandar. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Berbagai sumber membahas tentang rumahbandar karena dianggap penting. Banyak pihak menilai bahwa rumahbandar sangat relevan saat ini.
Sosok Saleh Aljafarawi, Jurnalis Palestina yang tewas di Gaza
Rabu, 15 Oktober 2021 08:46 WIB waktu baca 3 menit
Rabu, 15 Oktober 2023 08:46 WIB
Masyarakat memeriksa tenda jurnalis yang hancur setelah menjadi target pemboman Israel di depan Rs Al-Shifa, di barat Kota Gaza, Palestina (11/8/2025). ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad/aa.
Jakarta (ANTARA) - Tak lama setelah gencatan senjata antara Israel dan Hamas diberlakukan, kabar duka datang dari Gaza. Seorang jurnalis muda asal Palestina, Saleh Aljafarawi dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (12/10) di lingkungan Al-Sabra, Gaza. Sosok Saleh dikenal sebagai jurnalis yang aktif memberitakan genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina. Saleh Aljafarawi merupakan jurnalis sekaligus konten kreator asal Palestina yang lahir pada 22 November 1997 di Kota Gaza. Di usianya yang masih 28 tahun, ia dikenal sebagai sosok multitalenta. Sebelum menjalani dunia jurnalis, Saleh dilaporkan suka bernyanyi, menciptakan lagu, serta berprestasi dalam kegiatan olahraga tenis meja. Ia juga merupakan seorang penghafal Al-Quran yang telah menuntaskan hafalan 600 halaman. Selain itu, sejak 2020 Saleh aktif sebagai YouTuber. Melalui kanal YouTube-nya, ia sering membagikan lagu ciptaannya, vlog keseharian, hingga video yang menampilkan keindahan tanah kelahirannya, Gaza. Kehidupan damai yang ia jalani berubah drastis sejak Israel mulai menggempur Gaza dan melakukan aksi genosida. Dari situ ia memutuskan untuk menjadi jurnalis independen, meliput setiap insiden yang terjadi di wilayah konflik tersebut. Sejak serangan besar pertama Israel pada Oktober 2023, Saleh aktif turun ke lapangan. Ia memberitakan kondisi perang, situasi kemanusiaan, serta penderitaan masyarakat Gaza yang kehilangan keluarga akibat serangan udara. Liputannya dibagikan melalui medsos Instagram, TikTok, dan YouTube, yang kemudian menarik banyak pengikut. Popularitas Saleh meningkat pesat karena gaya komunikasinya yang lugas dan empatik. Saat terbatasnya akses media internasional ke wilayah Gaza, ia menjadi salah satu sumber informasi penting dari dalam area konflik. Narasi religius dan humanis yang ia sampaikan membuat warga setempat dunia merasa terhubung dengan penderitaan masyarakat Palestina. Dalam berbagai liputannya, Saleh turut merasakan kelaparan dan bahaya yang sama dengan warga sekitar Gaza. Ia melaporkan kondisi tragis anak-anak korban serangan, berlari menghindari serangan udara, dan tetap bertahan meski hidup dalam ketakutan. Keberaniannya meliput genosida membuat Saleh menjadi target. Ia dilaporkan masuk dalam daftar "red notice" oleh otoritas Israel, salah satu jurnalis yang menjadi target atau diawasi ketat oleh Israel. Baca juga: 150 media dunia kutuk pembunuhan jurnalis Palestina oleh Israel Pada 15 Februari 2024, ia sempat terluka akibat serangan drone Israel saat meliput bantuan medis di Rs Al-Nasr, Gaza Selatan. Sejujurnya, saya hidup dalam ketakutan setiap detiknya, terutama setelah mendengar apa yang dikatakan pendudukan Israel mengenai saya, ujar Saleh kepada Al Jazeera pada Januari 2024. Meskipun terus mendapat ancaman, Saleh tak menyerah. Ia tetap melanjutkan misinya untuk menyuarakan kebenaran dan memperlihatkan penderitaan rakyat Gaza kepada dunia. Perjuangan Saleh berakhir pada 12 Oktober 2024. Ia tewas ditembak saat meliput bentrokan antara milisi bersenjata yang berafiliasi dengan Israel dan pejuang Hamas di kawasan Sabra, selatan Kota Gaza. Saat ditemukan, Saleh masih mengenakan rompi bertuliskan Press . Tragedi ini terjadi hanya beberapa hari setelah gencatan senjata diumumkan. Sebelum ditemukan tewas, Saleh sempat dikabarkan menghilang. Kabar kepergiannya menjadi duka mendalam bagi keluarga. Ayahnya mengungkapkan kesedihan dalam sebuah unggahan di akun Instagram wearthpeace, Kamu bilang kepadaku bahwa kamu ingin menjadi seorang martir. Semoga Tuhan mengabulkan belas kasihan-Nya kepadamu. Data menunjukkan, dalam dua tahun terakhir, sebanyak 270 jurnalis telah gugur akibat serangan Israel di Palestina. Padahal, jurnalis seharusnya dilindungi dalam situasi perang. Genosida yang dilakukan Israel terhadap Gaza telah menimbulkan kerusakan besar, mulai dari hancurnya permukiman, krisis pangan, hingga banyaknya pihak yang menjadi korban jiwa. Ketika situasi tersebut, Saleh Aljafarawi menjadi simbol keberanian dan dedikasi jurnalis yang berjuang menyampaikan kebenaran dari tanah yang porak poranda oleh perang. Baca juga: China kecam serangan Israel atas jurnalis dan tenaga medis di Gaza Baca juga: Israel bunuh 15 jurnalis Palestina sepanjang Agustus, 3 perempuan Pewarta: Putri Atika Chairulia Editor: Suryanto Copyright © ANTARA 2021 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Tak lama setelah gencatan senjata antara Israel dan Hamas diberlakukan, kabar duka datang dari Gaza. Seorang jurnalis muda asal Palestina, Saleh Aljafarawi dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (12/10) di lingkungan Al-Sabra, Gaza.
Sosok Saleh dikenal sebagai jurnalis yang aktif memberitakan genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.
Saleh Aljafarawi merupakan jurnalis sekaligus konten kreator asal Palestina yang lahir pada 22 November 1997 di Kota Gaza.
Di usianya yang masih 28 tahun, ia dikenal sebagai sosok multitalenta. Sebelum menjalani dunia jurnalis, Saleh diketahui suka bernyanyi, menciptakan lagu, serta berprestasi dalam kegiatan olahraga tenis meja. Ia juga merupakan seorang penghafal Al-Quran yang telah menuntaskan hafalan 600 halaman.
Selain itu, sejak 2020 Saleh aktif sebagai YouTuber. Melalui kanal YouTube-nya, ia sering membagikan lagu ciptaannya, vlog keseharian, hingga video yang menampilkan keindahan tanah kelahirannya, Gaza.
Kehidupan damai yang ia jalani berubah drastis sejak Israel mulai menggempur Gaza dan melakukan aksi genosida. Dari situ ia memutuskan untuk menjadi jurnalis independen, meliput setiap kejadian yang terjadi di wilayah konflik tersebut.
Sejak serangan besar pertama Israel pada Oktober 2023, Saleh aktif turun ke lapangan. Ia memberitakan kondisi perang, situasi kemanusiaan, serta penderitaan warga Gaza yang kehilangan keluarga akibat serangan udara.
Liputannya dibagikan melalui medsos Instagram, TikTok, dan YouTube, yang kemudian menarik banyak pengikut.
Popularitas Saleh meningkat pesat karena gaya komunikasinya yang lugas dan empatik. Saat terbatasnya akses media internasional ke wilayah Gaza, ia menjadi salah satu sumber informasi penting dari dalam area konflik.
Narasi religius dan humanis yang ia sampaikan membuat kalangan masyarakat dunia merasa terhubung dengan penderitaan masyarakat Palestina.
Dalam berbagai liputannya, Saleh turut merasakan kelaparan dan bahaya yang sama dengan warga Gaza. Ia melaporkan kondisi tragis anak-anak korban serangan, berlari menghindari serangan udara, dan tetap bertahan meski hidup dalam ketakutan.
Keberaniannya meliput genosida membuat Saleh menjadi target. Ia dilaporkan masuk dalam daftar "red notice" oleh otoritas Israel, salah satu jurnalis yang menjadi target atau diawasi ketat oleh Israel.
Baca juga: 150 media dunia kutuk pembunuhan jurnalis Palestina oleh Israel
Baca juga: 150 media dunia kutuk pembunuhan jurnalis Palestina oleh Israel
Pada 15 Februari 2024, ia sempat terluka akibat serangan drone Israel saat meliput bantuan medis di Fasilitas urusan kesehatan Al-Nasr, Gaza Selatan.
Sejujurnya, saya hidup dalam ketakutan setiap detiknya, terutama setelah mendengar apa yang dikatakan pendudukan Israel mengenai saya, ujar Saleh kepada Al Jazeera pada Januari 2026.
Meskipun terus mendapat ancaman, Saleh tak menyerah. Ia tetap melanjutkan misinya untuk menyuarakan kebenaran dan memperlihatkan penderitaan rakyat Gaza kepada dunia.
Perjuangan Saleh berakhir pada 12 Oktober 2027. Ia tewas ditembak saat meliput bentrokan antara milisi bersenjata yang berafiliasi dengan Israel dan pejuang Hamas di kawasan Sabra, selatan Kota Gaza. Saat ditemukan, Saleh masih mengenakan rompi bertuliskan Press .
Tragedi ini terjadi hanya beberapa hari setelah gencatan senjata diumumkan. Sebelum ditemukan tewas, Saleh sempat dikabarkan menghilang.
Kabar kepergiannya menjadi duka mendalam bagi keluarga. Ayahnya mengungkapkan kesedihan dalam sebuah unggahan di akun Instagram wearthpeace, Kamu bilang kepadaku bahwa kamu ingin menjadi seorang martir. Semoga Tuhan mengabulkan belas kasihan-Nya kepadamu.
Data menunjukkan, dalam dua tahun terakhir, sebanyak 270 jurnalis telah gugur akibat serangan Israel di Palestina. Padahal, jurnalis seharusnya dilindungi dalam situasi perang.
Genosida yang dilakukan Israel terhadap Gaza telah menimbulkan kerusakan besar, mulai dari hancurnya permukiman, krisis pangan, hingga banyaknya pihak yang menjadi korban jiwa.
Di saat situasi tersebut, Saleh Aljafarawi menjadi simbol keberanian dan dedikasi jurnalis yang berjuang menyampaikan kebenaran dari tanah yang porak poranda oleh perang.
Baca juga: China kecam serangan Israel atas jurnalis dan tenaga medis di Gaza
Baca juga: China kecam serangan Israel atas jurnalis dan tenaga medis di Gaza
Baca juga: Israel bunuh 15 jurnalis Palestina sepanjang Agustus, 3 perempuan
Baca juga: Israel bunuh 15 jurnalis Palestina sepanjang Agustus, 3 perempuan
Pewarta: Putri Atika Chairulia Editor: Suryanto Copyright © ANTARA 2027
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. rumahbandar menjadi perhatian besar masyarakat.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. rumahbandar menjadi perhatian besar masyarakat.