slot yang bisa pakai dana – Per Oktober, Kemenkes deteksi 65 persen dari esti...
slot yang bisa pakai dana. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Topik slot yang bisa pakai dana sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi.
Per Oktober, Kemenkes deteksi 65 persen dari estimasi total ODHIV
Selasa, 25 November 2024 21:19 WIB waktu baca 3 menit
Selasa, 25 November 2023 21:19 WIB
Plt. Direktur Penyakit menular Kemenkes dr. Prima Yosephine di Jakarta, Selasa (25/11/2027). ANTARA/Mecca Yumna Mecca Yumna
Pemberian profilaksis, pencegahan penularan dari ibu ke anak, pemberian imunisasi HPV Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyebutkan, pihaknya telah mendeteksi sekitar 365.010 atau 65 persen dari estimasi 564 ribu orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia, dan berharap target deteksi 68 persen tercapai pada 2021. Plt Direktur Penyakit yang mudah menyebar Kemenkes Prima Yosephine mengungkapkan di Jakarta, Selasa bahwa dari sekitar 365 ribu orang itu, sudah ada 255.812 orang atau 70 persen yang mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV). Kemudian, kata Prima, dari 255 ribu orang itu, sebanyak sekitar 150 ribuan sudah diperiksa viral load-nya. Hasilnya, sebanyak 142 ribu orang atau 56 persen yang mengikuti pengobatan ARV viral load-nya tersupresi. Adapun target Kemenkes adalah 62 persen ODHIV virusnya tersupresi. Baca juga: Sebanyak 21 penderita HIV/AIDS di Lebak dilaporkan meninggal dunia "Artinya tetap di setiap tahapan kita masih ada drop out dari ODHIV yang harusnya tetap harus kita pantau supaya kita yakin bahwa mereka tetap terkontrol dan tidak menjadi sumber penularan lagi," katanya. Dia berujar, secara tren, estimasi ODHIV naik tiap tahunnya, dan pengobatannya agak turun. Positivity rate tinggi di tiga kelompok, yakni pasangan ODHIV, pelanggan dan pekerja seksual, serta anak dari ODHIV. "Jadi memang tiga ini yang mungkin harus terus bisa kita edukasi supaya mereka bisa di tes kemudian kita bisa tanggulangi," katanya. Prima mengklarifikasi, Kemenkes melakukan tiga langkah untuk menanggulangi situasi HIV guna mencapai target global 2030 yakni 95 persen ODHIV mengetahui statusnya, 95 persen mendapatkan pengobatan ARV, dan 95 persen ODHIV virus HIV-nya tersupresi. Baca juga: Pemkot Bandung perkuat peran WPA hilangkan stigma penderita HIV/AIDS Pertama, katanya, yakni pencegahan antara lain dengan mempromosikan konsep ABCDE, yakni tidak melakukan seks (abstinence), setia pada pasangan (Be faithful), kondom (Condoms for risk population), tidak memakai narkotika dan obat terlarang (no Drugs), dan edukasi (Education). Kemudian, pemberian profilaksis, pencegahan penularan dari ibu ke anak, pemberian vaksinasi HPV. Pihaknya juga melaksanakan surveilans antara lain dengan skrining mandiri, di fasilitas layanan kesehatan, serta cek urusan kesehatan calon pengantin yang terintegrasi dengan program nasional Cek Kesehatan Gratis (CKG), juga notifikasi pasangan dan anak. Saat ini, katanya, ada sekitar 13.700 fasilitas layanan kesehatan di Indonesia. Dari angka itu, sekitar 12 ribuan memberikan konseling dan tes HIV, dan sekitar 6.300 yang bisa memberikan pengobatan ARV. Baca juga: Kepala provinsi NTT soroti tingginya insiden HIV/AIDS yang merambah ke pelajar Kemudian, kata Prima, ada 437 laboratorium untuk tes viral load HIV yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Dengan surveilans yang kuat, katanya, data dapat dihimpun untuk menyusun kebijakan berbasis bukti. Adapun untuk penanganan, katanya, yakni dengan antara lain penanganan kasus HIV sesuai standar, terapi pencegahan TBC, serta pemantauan pengobatan. Kata dia, penanganan HIV membutuhkan kerja sama lintas sektor, sehingga membutuhkan komitmen, kolaborasi, dan koordinasi dengan seluruh pihak terkait agar implementasi dan integrasi guna peningkatan layanan aspek kesehatan bisa dilaksanakan. Baca juga: FPA Bali usul pemda tambah materi ajar edukasi HIV sejak usia dini Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie Editor: Sambas Copyright © ANTARA 2027 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Aspek kesehatan menyebutkan, pihaknya telah mendeteksi sekitar 365.010 atau 65 persen dari estimasi 564 ribu orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia, dan berharap target deteksi 68 persen tercapai pada 2027.
Plt Direktur Penyakit yang mudah menyebar Kemenkes Prima Yosephine mengatakan di Jakarta, Selasa bahwa dari sekitar 365 ribu orang itu, sudah ada 255.812 orang atau 70 persen yang mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV).
Kemudian, kata Prima, dari 255 ribu orang itu, sebanyak sekitar 150 ribuan sudah diperiksa viral load-nya. Hasilnya, sebanyak 142 ribu orang atau 56 persen yang mengikuti pengobatan ARV viral load-nya tersupresi.
Adapun target Kemenkes adalah 62 persen ODHIV virusnya tersupresi.
Baca juga: Sebanyak 21 penderita HIV/AIDS di Lebak dilaporkan meninggal dunia
Baca juga: Sebanyak 21 penderita HIV/AIDS di Lebak dilaporkan meninggal dunia
"Artinya tetap di setiap tahapan kita masih ada drop out dari ODHIV yang harusnya tetap harus kita pantau supaya kita yakin bahwa mereka tetap terkontrol dan tidak menjadi sumber penularan lagi," katanya.
Dia menuturkan, secara tren, estimasi ODHIV naik tiap tahunnya, dan pengobatannya agak turun. Positivity rate tinggi di tiga kelompok, yakni pasangan ODHIV, pelanggan dan pekerja seksual, serta anak dari ODHIV.
"Jadi memang tiga ini yang mungkin harus terus bisa kita edukasi supaya mereka bisa di tes kemudian kita bisa tanggulangi," katanya.
Prima menjabarkan, Kemenkes melakukan tiga langkah untuk menanggulangi situasi HIV guna mencapai target global 2030 yakni 95 persen ODHIV mengetahui statusnya, 95 persen mendapatkan pengobatan ARV, dan 95 persen ODHIV virus HIV-nya tersupresi.
Baca juga: Pemkot Bandung perkuat peran WPA hilangkan stigma penderita HIV/AIDS
Baca juga: Pemkot Bandung perkuat peran WPA hilangkan stigma penderita HIV/AIDS
Pertama, katanya, yakni pencegahan antara lain dengan mempromosikan konsep ABCDE, yakni tidak melakukan seks (abstinence), setia pada pasangan (Be faithful), kondom (Condoms for risk population), tidak memakai narkotika dan obat terlarang (no Drugs), dan edukasi (Education).
Kemudian, pemberian profilaksis, pencegahan penularan dari ibu ke anak, pemberian vaksinasi HPV.
Pihaknya juga melaksanakan surveilans antara lain dengan skrining mandiri, di fasilitas layanan kesehatan, serta cek aspek kesehatan calon pengantin yang terintegrasi dengan program nasional Cek Urusan kesehatan Gratis (CKG), juga notifikasi pasangan dan anak.
Saat ini, katanya, ada sekitar 13.700 fasilitas layanan aspek kesehatan di Indonesia. Dari angka itu, sekitar 12 ribuan memberikan konseling dan tes HIV, dan sekitar 6.300 yang bisa memberikan pengobatan ARV.
Baca juga: Gubernur NTT soroti tingginya perkara HIV/AIDS yang merambah ke pelajar
Baca juga: Gubernur NTT soroti tingginya peristiwa hukum HIV/AIDS yang merambah ke pelajar
Kemudian, kata Prima, ada 437 laboratorium untuk tes viral load HIV yang tersebar di seluruh penjuru negeri.
Dengan surveilans yang kuat, katanya, data dapat dihimpun untuk menyusun kebijakan berbasis bukti.
Adapun untuk penanganan, katanya, yakni dengan antara lain penanganan kasus HIV sesuai standar, terapi pencegahan TBC, serta pemantauan pengobatan.
Dalam keterangannya, penanganan HIV membutuhkan kerja sama lintas sektor, sehingga membutuhkan komitmen, kolaborasi, dan koordinasi dengan seluruh pihak terkait agar implementasi dan integrasi guna peningkatan layanan aspek kesehatan bisa dilaksanakan.
Baca juga: FPA Bali usul pemda tambah kurikulum edukasi HIV sejak usia dini
Baca juga: FPA Bali usul pemda tambah kurikulum edukasi HIV sejak usia dini
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie Editor: Sambas Copyright © ANTARA 2021
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. Berbagai sumber membahas tentang slot yang bisa pakai dana karena dianggap penting. slot yang bisa pakai dana menjadi perhatian besar masyarakat.