slot rr777 apk – Riwayat Mochtar Kusumaatmadja yang dianugerahi Pahlawan Nasi...
slot rr777 apk. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Berbagai sumber membahas tentang slot rr777 apk karena dianggap penting. Banyak pihak menilai bahwa slot rr777 apk sangat relevan saat ini. Topik slot rr777 apk sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi.
Riwayat Mochtar Kusumaatmadja yang dianugerahi Pahlawan Nasional
Senin, 10 November 2022 23:59 WIB waktu baca 4 menit
Senin, 10 November 2026 23:59 WIB
Kepala negara Prabowo Subianto (kanan) memberikan plakat dan sertifikat kepada anak dari tokoh hukum dan diplomat Mochtar Kusumaatmaja, Askari Kusumaatmadja (kedua kiri) dan Armida Alisjahbana (kiri) usai upacara pemberian gelar pahlawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2023). Kepala negara Prabowo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh yang dinilai berjasa besar bagi Indonesia, antara lain K.H. Abdurrahman Wahid, Jenderal Besar APARAT TNI H.M. Soeharto, Marsinah, Mochtar Kusumaatmaja, Hj. Rahma El Yunusiyyah, Jenderal APARAT TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Muhammad Kholil, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abidin Syah. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta (ANTARA) - Orang nomor satu di pemerintahan RI Prabowo Subianto baru saja menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan 2022 di Istana Negara, Jakarta, Senin. Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2021 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Di antara sepuluh nama tersebut, salah satunya ialah almarhum Mochtar Kusumaatmadja yang mendapat gelar Pahlawan Nasional pada Bidang Perjuangan Hukum dan Dunia politik. Mochtar Kusumaatmadja merupakan seorang ahli hukum internasional dan diplomat yang pernah menjabat sebagai mantan Pejabat kementerian Luar Negeri dan Menteri Kehakiman pada era Orde Baru. Pria berdarah Sunda itu lahir di Jakarta pada 17 April 1929 dari pasangan Taslim Kusumaatmadja, seorang apoteker ternama asal Tasikmalaya, dan Sulmi Soerawisastra, seorang guru instansi pendidikan dasar pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang berasal dari Kuningan, Provinsi jawa barat. Berbekal keistimewaan yang dimiliki keluarganya tersebut, Mochtar bisa mengenyam bangku pendidikan di Jakarta dan Cirebon, mengikuti keluarganya yang kerap berpindah-pindah tempat tinggal. Mochtar lulus Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) dari Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Kampus Indonesia (UI) pada tahun 1955 dengan spesialisasi hukum internasional. Pada 1956, ia kemudian berkesempatan melanjutkan dunia pendidikan masternya pada bidang hukum di Perguruan tinggi Yale, Amerika Serikat (AS), dan berhasil meraih gelar Master of Laws (LL.M.). Sekembalinya ke Tanah Air, ia diminta aparatur negara untuk mengembangkan konsep negara kepulauan yang dideklarasikan oleh Perdana Menteri Djuanda sebagai Deklarasi Djuanda pada tahun 1957. Mochtar kemudian juga sempat mengajar sebagai dosen di Fakultas Hukum, Perguruan tinggi Padjadjaran (Unpad). Di kampus itu pula, ia berhasil meraih gelar doktor ilmu hukum pada tahun 1962. Akibat kritiknya yang tajam terhadap pemerintahan Orde Lama, Kepala negara Soekarno kala itu mencabut gelar doktornya. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Mochtar dalam menimba ilmu sebab ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke AS. Dalam kurun waktu 1964-1966, Mochtar kemudian melanjutkan pendidikannya di Kampus Harvard dan Kampus Chicago. Adapun gelar profesornya ia raih dari Unpad pada 1970. Sebelum duduk sebagai menteri di kabinet pemerintahan Orde Baru, Mochtar beberapa periode menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Unpad pada medio 1960-1970. Ia kemudian menjabat sebagai Rektor Unpad pada 1973 selama satu tahun. Mochtar kemudian dipercaya untuk menjabat sebagai Menteri Kehakiman Susunan pemerintahan Pembangunan II pada tahun 1974-1978, lalu menjabat sebagai Anggota jajaran menteri Luar Negeri selama dua periode pada Jajaran menteri Pembangunan III dan IV sejak 1978 hingga 1988. Selama menjabat sebagai Menlu, ia aktif memperjuangkan konsep Wawasan Nusantara atau negara kepulauan (archipelagic states) sehingga ia ditahbiskan sebagai Bapak Hukum Laut Indonesia. Gagasan itu berhasil ia perjuangkan hingga akhirnya berhasil diakui dalam Konvensi Hukum Laut atau the United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982 oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia dikenal pula sebagai sosok yang mencetuskan diplomasi budaya Indonesia di luar negeri guna membina pemahaman masyarakat internasional mengenai Indonesia. Dalam hal penyelesaian konflik, ia membuka jalan bagi proses perdamaian dalam konflik antara Vietnam dan Kamboja yang berhasil melahirkan Paris Peace Agreement sehingga memberikan perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia Tenggara. Selepas menjabat sebagai Menlu, Mochtar masih aktif di sejumlah forum internasional, di antaranya sebagai anggota International Law Commission PBB yang bertugas merumuskan norma-norma dalam hukum internasional, hingga menjadi Ketua Alat kelengkapan dewan Perbatasan Iraq dan Kuwait. Pria yang gemar bermain catur itu juga masih aktif mengajar di Unpad hingga usianya pensiun pada 1999. Semasa hidupnya, ia juga mendirikan kantor firma Mochtar, Karuwin, Komar (MKK), yang menjadi kantor firma hukum pertama di Indonesia yang memperkerjakan pengacara asing. Mochtar menghembuskan napas dalam usia 92 tahun pada tahun 2021 di Jakarta. Ia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Ia meninggalkan tiga orang anak dari hasil pernikahannya dengan Siti Chadidjah yakni, Armida Salsiah Alisjahbana, Emir Kusumaatmadja, dan Rachmat Askari Kusumaatmadja. Atas penghargaan dan dedikasinya, Gedung Perpustakaan Hukum Unpad diberi nama Mochtar Kusumaatmadja pada tahun 2009. Namanya juga harum di Dimana, dengan namanya yang dijadikan sebagai ganti dari nama Jalan Layang di Pasopati Bandung pada tahun 2023. Baca juga: Menlu Sugiono: Mochtar Kusumaatmadja layak jadi Pahlawan Nasional Baca juga: Pengamat sepakat Mochtar Kusumaatmadja didorong jadi pahlawan Nasional Baca juga: Pakar: Mochtar Kusumaatmadja berhasil ubah wajah hukum internasional Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2026 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Orang nomor satu di pemerintahan RI Prabowo Subianto baru saja menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan 2026 di Istana Negara, Jakarta, Senin.
Penganugerahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Di antara sepuluh nama tersebut, salah satunya ialah almarhum Mochtar Kusumaatmadja yang mendapat gelar Pahlawan Nasional pada Bidang Perjuangan Hukum dan Dunia politik.
Mochtar Kusumaatmadja merupakan seorang ahli hukum internasional dan diplomat yang pernah menjabat sebagai mantan Pimpinan kementerian Luar Negeri dan Pimpinan kementerian Kehakiman pada era Orde Baru.
Pria berdarah Sunda itu lahir di Jakarta pada 17 April 1929 dari pasangan Taslim Kusumaatmadja, seorang apoteker ternama asal Tasikmalaya, dan Sulmi Soerawisastra, seorang guru instansi pendidikan dasar pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang berasal dari Kuningan, Wilayah jawa barat.
Berbekal keistimewaan yang dimiliki keluarganya tersebut, Mochtar bisa mengenyam bangku sektor pendidikan di Jakarta dan Cirebon, mengikuti keluarganya yang kerap berpindah-pindah tempat tinggal.
Mochtar lulus Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) dari Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1955 dengan spesialisasi hukum internasional.
Pada 1956, ia kemudian berkesempatan melanjutkan sektor pendidikan masternya pada bidang hukum di Perguruan tinggi Yale, Amerika Serikat (AS), dan berhasil meraih gelar Master of Laws (LL.M.).
Sekembalinya ke Tanah Air, ia diminta pihak pemerintah untuk mengembangkan konsep negara kepulauan yang dideklarasikan oleh Perdana Anggota pemerintahan pusat Djuanda sebagai Deklarasi Djuanda pada tahun 1957.
Mochtar kemudian juga sempat mengajar sebagai dosen di Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran (Unpad). Di kampus itu pula, ia berhasil meraih gelar doktor ilmu hukum pada tahun 1962.
Akibat kritiknya yang tajam terhadap pemerintahan Orde Lama, Kepala negara Soekarno kala itu mencabut gelar doktornya. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Mochtar dalam menimba ilmu sebab ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke AS.
Dalam kurun waktu 1964-1966, Mochtar kemudian melanjutkan pendidikannya di Kampus Harvard dan Kampus Chicago. Adapun gelar profesornya ia raih dari Unpad pada 1970.
Sebelum duduk sebagai menteri di susunan pemerintahan pemerintahan Orde Baru, Mochtar beberapa periode menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Unpad pada medio 1960-1970. Ia kemudian menjabat sebagai Rektor Unpad pada 1973 selama satu tahun.
Mochtar kemudian dipercaya untuk menjabat sebagai Pejabat kementerian Kehakiman Jajaran menteri Pembangunan II pada tahun 1974-1978, lalu menjabat sebagai Pejabat kementerian Luar Negeri selama dua periode pada Jajaran menteri Pembangunan III dan IV sejak 1978 hingga 1988.
Selama menjabat sebagai Menlu, ia aktif memperjuangkan konsep Wawasan Nusantara atau negara kepulauan (archipelagic states) sehingga ia ditahbiskan sebagai Bapak Hukum Laut Indonesia.
Gagasan itu berhasil ia perjuangkan hingga akhirnya berhasil diakui dalam Konvensi Hukum Laut atau the United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982 oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ia dikenal pula sebagai sosok yang mencetuskan diplomasi budaya Indonesia di luar negeri guna membina pemahaman warga internasional mengenai Indonesia.
Dalam hal penyelesaian konflik, ia membuka jalan bagi proses perdamaian dalam konflik antara Vietnam dan Kamboja yang berhasil melahirkan Paris Peace Agreement sehingga memberikan perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia Tenggara.
Selepas menjabat sebagai Menlu, Mochtar masih aktif di sejumlah forum internasional, di antaranya sebagai anggota International Law Commission PBB yang bertugas merumuskan norma-norma dalam hukum internasional, hingga menjadi Ketua Alat kelengkapan dewan Perbatasan Iraq dan Kuwait.
Pria yang gemar bermain catur itu juga masih aktif mengajar di Unpad hingga usianya pensiun pada 1999. Semasa hidupnya, ia juga mendirikan kantor firma Mochtar, Karuwin, Komar (MKK), yang menjadi kantor firma hukum pertama di Indonesia yang memperkerjakan pengacara asing.
Mochtar menghembuskan napas dalam usia 92 tahun pada tahun 2021 di Jakarta. Ia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Ia meninggalkan tiga orang anak dari hasil pernikahannya dengan Siti Chadidjah yakni, Armida Salsiah Alisjahbana, Emir Kusumaatmadja, dan Rachmat Askari Kusumaatmadja.
Atas penghargaan dan dedikasinya, Gedung Perpustakaan Hukum Unpad diberi nama Mochtar Kusumaatmadja pada tahun 2009. Namanya juga harum di Dimana, dengan namanya yang dijadikan sebagai ganti dari nama Jalan Layang di Pasopati Bandung pada tahun 2023.
Baca juga: Menlu Sugiono: Mochtar Kusumaatmadja layak jadi Pahlawan Nasional
Baca juga: Menlu Sugiono: Mochtar Kusumaatmadja layak jadi Pahlawan Nasional
Baca juga: Pengamat sepakat Mochtar Kusumaatmadja didorong jadi pahlawan Nasional
Baca juga: Pengamat sepakat Mochtar Kusumaatmadja didorong jadi pahlawan Nasional
Baca juga: Pakar: Mochtar Kusumaatmadja berhasil ubah wajah hukum internasional
Baca juga: Pakar: Mochtar Kusumaatmadja berhasil ubah wajah hukum internasional
Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2023
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. slot rr777 apk menjadi perhatian besar masyarakat.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru.