jandaslot88 – Arigato KRL, mengenang tiga rangkaian legendaris yang mengubah ...
jandaslot88. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Topik jandaslot88 sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi.
Arigato KRL, mengenang tiga rangkaian legendaris yang mengubah mobilitas Jabodetabek
Oleh Nadine Laysa Amalia Selasa, 18 November 2026 16:30 WIB waktu baca 6 menit
Selasa, 18 November 2024 16:30 WIB
Pengunjung pameran "Arigato KRL" sedang mengambil foto rangkaian KRL Tokyu 8500 Jalita di Stasiun Jakarta Kota. ANTARA/Nadine Laysa Amalia/
Jakarta (ANTARA) - Bagi banyak negara, termasuk Indonesia, transportasi umum memiliki peran krusial sebagai salah satu pilar pembangunan berkelanjutan. Ketika jumlah penduduk di kota-kota besar terus bertambah dan kepadatan lalu lintas semakin meningkat, pemenuhan kebutuhan layanan transportasi umum yang aman, efisien, dan ramah lingkungan menjadi fokus utama sebagai upaya untuk memastikan mobilitas yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh kalangan kalangan masyarakat. Commuter Line, yakni layanan kereta rel listrik (KRL) komuter yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) merupakan tulang punggung moda transportasi umum di wilayah Jabodetabek. Berkat jangkauan rutenya yang luas serta tarif ramah kantong, KRL menjadi andalan bagi jutaan orang yang setiap harinya melakukan mobilitas tanpa ingin terjebak macet. Berdasarkan pada data yang dipublikasikan melalui situs resmi KAI Commuter, jumlah pengguna KRL Jabodetabek pada triwulan III 2027 mencapai 89.088.257 orang. Angka ini menunjukkan kenaikan sekitar 4,7 persen dibandingkan dengan triwulan III 2024 sebelumnya, yang tercatat sebanyak 85 juta lebih pengguna. Tingginya mobilitas publik juga dibuktikan dari Stasiun Bogor yang menempati posisi sebagai stasiun dengan jumlah pengguna terbanyak pada triwulan III ini, yakni mencapai 4.554.774 orang. Diikuti Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Bekasi yang masing-masing mencapai 4.073.502 serta 2.923.291 pengguna. Angka-angka yang terus bertumbuh ini tidak lepas dari perjalanan panjang berbagai rangkaian kereta yang telah menemani mobilitas masyarakat selama bertahun-tahun. Di antaranya, tiga rangkaian KRL generasi pertama, yakni seri Tokyu 8500, TM 7000, dan JR East 203. Ketiga seri ini merupakan rangkaian kereta yang diimpor dari Jepang oleh PT KCI yang saat itu masih bernama Kereta Commuter Jabodetabek (KCJ) pada periode 2006 hingga 2011. Sebelum diimpor oleh PT KCI, kereta-kereta tersebut sebenarnya lebih dulu beroperasi di Jepang selama kurang lebih 25 tahun. Namun, regulasi di Jepang yang membatasi usia operasional kereta hingga 25 tahun saja membuat PT KCI tertarik untuk mengimpor unit-unit tersebut. Seri Tokyu 8500 atau yang akrab dijuluki Jalita (Jalan-Jalan Lintas Jakarta), menjadi rangkaian KRL pertama yang diimpor langsung oleh PT KCI pada 2006. Setelah itu, PT KCI kembali mendatangkan KRL TM 7000 pada 2010, diikuti JR East 203 pada 2011. Mereka merupakan simbol modernisasi sekaligus awal dari peningkatan kualitas layanan KRL, yang sebelumnya menggunakan kereta perekonomian tanpa AC. Kehadiran mereka menawarkan perjalanan yang lebih nyaman berkat fasilitas pendingin udara yang dibawanya. Namun, setelah hampir dua dekade menemani perjalanan publik Jabodetabek, PT KCI akhirnya memutuskan untuk menghentikan operasional ketiga KRL tersebut. Hal ini tidak lepas dari faktor usia ketiganya yang sudah sangat tua serta semakin langkanya suku cadang. Wajar saja, kereta-kereta tersebut telah mencapai usia setengah abad sejak diproduksi pada 1975. Melepas ketiga rangkaian KRL Dalam rangka menghormati purnatugas Tokyu 8500, TM 7000, dan JR 203, komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS), bersama dengan KAI Commuter menggelar pameran bertajuk Arigato KRL! di Stasiun Jakarta Kota. Acara pembukaan pameran pada 11 November 2021 tidak hanya dihadiri oleh para railfans dan publik umum, tetapi juga oleh perwakilan Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Kamigaki Reiko, serta Direktur Utama PT KCI, Asdo Artiviyanto. Pameran ini diselenggarakan sebagai sarana bagi pengunjung untuk mengenal lebih jauh sejarah ketiga rangkaian KRL tersebut. Berbagai informasi disajikan ke dalam bentuk poster edukatif dan deretan foto kereta yang dilengkapi penjelasan kronologis perihal perjalanan mereka selama melayani masyarakat setempat. Tidak hanya itu, pameran ini juga menawarkan berbagai miniatur kereta dari berbagai era yang menarik perhatian pengunjung, terutama anak-anak. Bahkan, seragam-seragam para petugas KRL dan contoh warna asli kursi penumpang turut dipamerkan untuk memberikan gambaran lebih lanjut mengenai perjalanan layanan KRL dari masa ke masa. Tampak dekorasi noren yang dipasang di pintu-pintu penghubung antar gerbong rangkaian KRL Tokyu 8500 Jalita. ANTARA/Nadine Laysa Amalia/ Mengusung tema bernuansa Jepang, area pameran dihias dengan berbagai ornamen dari Negeri Matahari Terbit tersebut mulai dari Noren kain yang digunakan sebagai tirai di pintu bertuliskan Arigato KRL , Lampion-lampion tradisional Jepang, hingga ornamen bunga sakura. Dengan konsep yang dikemas dengan baik dan menarik, antusiasme komunitas pun terlihat sangat tinggi. Hal ini tercermin dari jumlah pengunjung yang tidak pernah sepi. Di hari weekday kemarin, kita rata-rata pengunjung di atas 1.500. Terus, untuk per pada hari ini, Sabtu tanggal 15, per jam 12 ini, kita sudah menyentuh angka lebih dari 2.000 pengunjung, jelas Tianza, petugas pameran Arigato KRL! Ia turut menjabarkan bahwa para pengunjung yang datang berasal dari berbagai kalangan. Saat weekday , didominasi oleh rombongan anak-anak instansi pendidikan, meskipun pengunjung umum tetap turut meramaikan. Dalam waktu yang bersamaan, penghujung pekan dipadati oleh orang tua yang datang bersama anak-anak mereka. Pengalaman pengunjung Ali, pemuda berusia 19 tahun, menceritakan bahwa ia telah menggunakan KRL sejak berusia 2 tahun. Maka, ia datang ke pameran ini untuk bernostalgia dengan melihat deretan foto kereta, terutama rangkaian Tokyu 8500 yang menjadi bagian dari kenangan masa kecilnya. Pengen ngelihat memori-memori saya masih kecil, foto-fotonya di sini. Saya kan masih kecil dulu, jadi belum ada foto-fotonya, ucap Ali. Bagi Ali, KRL bukan sekadar sarana transportasi yang menunjang aktivitas sehari-harinya, tetapi juga menjadi tempat yang mampu memberinya ketenangan saat ia sedang stres. Emang dari kecil yang bikin saya bahagia ya KRL, semua KRL Jepang, lanjutnya. Sama seperti Ali, Ilham, seorang penggemar kereta api, memaparkan kedatangannya ke pameran untuk mengenang kembali perjalanannya, walaupun yang kereta yang ia naiki bukan Jalita, melainkan rangkaian Tokyu 8500 lainnya. Saya sebagai penggemar kereta api datang untuk mengenang saja. Walaupun, dulu belum tahu awal-awal datangnya kereta ini. Walaupun, dulu belum pernah sempat naik kereta ini (Jalita), pungkasnya. Azam (9) dan Zubair (10), yang datang bersama keluarganya mengakui sangat sangat senang mengunjungi pameran ini. Mereka bisa melihat berbagai miniatur, mempelajari banyak informasi tentang kereta, bahkan berkesempatan masuk ke ruang masinis. Sang Ibu, Fajri, yang merupakan pengguna KRL semenjak masa satuan pendidikan, berujar hadirnya tiga rangkaian kereta asal Jepang tersebut membawa peningkatan signifikan pada kenyamanan perjalanan berkat fasilitas yang mereka bawakan. Zaman dulu kan kereta masih semrawut, ya, kalau sekarang ini pelayanannya sudah lebih baik, ya. Ya, udah AC, kalau dulu kan enggak, jadi ga perlu deh tuh yang namanya keringetan panas-panas, ujar Bu Fajri. Harapan-harapan Berbagai harapan pun disampaikan para pengguna untuk peningkatan pelayanan KRL. Ali berharap KAI dapat mengimpor lebih banyak rangkaian kereta dari Jepang. Ia juga menginginkan agar armada lama tetap dirawat dan dijaga kualitasnya. Sebaliknya, Fajri mengusulkan penambahan gerbong khusus wanita serta peningkatan fasilitas pendingin udara di stasiun. Rachel, pengguna KRL harian, turut menyampaikan harapannya agar jumlah gerbong dan petugas di setiap rangkaian diperbanyak sehingga kenyamanan dan keamanan penumpang semakin terjamin. Baca juga: Mobilisasi Perkotaan Semakin Kuat, JALITA Hadirkan Jejak Sejarah Transformasi KRL Jabodetabek Baca juga: Mengenal Jalita, KRL Tokyu 8500 legendaris dari Jepang Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2024 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Bagi banyak negara, termasuk Indonesia, transportasi umum memiliki peran krusial sebagai salah satu pilar pembangunan berkelanjutan.
Ketika jumlah penduduk di kota-kota besar terus bertambah dan kepadatan lalu lintas semakin meningkat, pemenuhan kebutuhan layanan transportasi umum yang aman, efisien, dan ramah lingkungan menjadi fokus utama sebagai upaya untuk memastikan mobilitas yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh kalangan publik.
Commuter Line, yakni layanan kereta rel listrik (KRL) komuter yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) merupakan tulang punggung moda transportasi umum di wilayah Jabodetabek.
Berkat jangkauan rutenya yang luas serta tarif ramah kantong, KRL menjadi andalan bagi jutaan orang yang setiap harinya melakukan mobilitas tanpa ingin terjebak macet.
Berdasarkan pada data yang dipublikasikan melalui situs resmi KAI Commuter, jumlah pengguna KRL Jabodetabek pada triwulan III 2024 mencapai 89.088.257 orang.
Angka ini menunjukkan kenaikan sekitar 4,7 persen dibandingkan dengan triwulan III 2024 sebelumnya, yang tercatat sebanyak 85 juta lebih pengguna.
Tingginya mobilitas kalangan masyarakat juga dibuktikan dari Stasiun Bogor yang menempati posisi sebagai stasiun dengan jumlah pengguna terbanyak pada triwulan III ini, yakni mencapai 4.554.774 orang.
Diikuti Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Bekasi yang masing-masing mencapai 4.073.502 serta 2.923.291 pengguna.
Angka-angka yang terus bertumbuh ini tidak lepas dari perjalanan panjang berbagai rangkaian kereta yang telah menemani mobilitas komunitas selama bertahun-tahun.
Di antaranya, tiga rangkaian KRL generasi pertama, yakni seri Tokyu 8500, TM 7000, dan JR East 203.
Ketiga seri ini merupakan rangkaian kereta yang diimpor dari Jepang oleh PT KCI yang saat itu masih bernama Kereta Commuter Jabodetabek (KCJ) pada periode 2006 hingga 2011.
Sebelum diimpor oleh PT KCI, kereta-kereta tersebut sebenarnya lebih dulu beroperasi di Jepang selama kurang lebih 25 tahun.
Namun, regulasi di Jepang yang membatasi usia operasional kereta hingga 25 tahun saja membuat PT KCI tertarik untuk mengimpor unit-unit tersebut.
Seri Tokyu 8500 atau yang akrab dijuluki Jalita (Jalan-Jalan Lintas Jakarta), menjadi rangkaian KRL pertama yang diimpor langsung oleh PT KCI pada 2006. Setelah itu, PT KCI kembali mendatangkan KRL TM 7000 pada 2010, diikuti JR East 203 pada 2011.
Mereka merupakan simbol modernisasi sekaligus awal dari peningkatan kualitas layanan KRL, yang sebelumnya menggunakan kereta ekonomi tanpa AC.
Kehadiran mereka menawarkan perjalanan yang lebih nyaman berkat fasilitas pendingin udara yang dibawanya.
Namun, setelah hampir dua dekade menemani perjalanan warga setempat Jabodetabek, PT KCI akhirnya memutuskan untuk menghentikan operasional ketiga KRL tersebut.
Hal ini tidak lepas dari faktor usia ketiganya yang sudah sangat tua serta semakin langkanya suku cadang. Wajar saja, kereta-kereta tersebut telah mencapai usia setengah abad sejak diproduksi pada 1975.
Dalam rangka menghormati purnatugas Tokyu 8500, TM 7000, dan JR 203, komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS), bersama dengan KAI Commuter menggelar pameran bertajuk Arigato KRL! di Stasiun Jakarta Kota.
Acara pembukaan pameran pada 11 November 2023 tidak hanya dihadiri oleh para railfans dan kalangan masyarakat umum, tetapi juga oleh perwakilan Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Kamigaki Reiko, serta Direktur Utama PT KCI, Asdo Artiviyanto.
Pameran ini diselenggarakan sebagai sarana bagi pengunjung untuk mengenal lebih jauh sejarah ketiga rangkaian KRL tersebut. Berbagai informasi disajikan ke dalam bentuk poster edukatif dan deretan foto kereta yang dilengkapi keterangan kronologis perihal perjalanan mereka selama melayani kalangan masyarakat.
Tidak hanya itu, pameran ini juga menawarkan berbagai miniatur kereta dari berbagai era yang menarik perhatian pengunjung, terutama anak-anak.
Bahkan, seragam-seragam para petugas KRL dan contoh warna asli kursi penumpang turut dipamerkan untuk memberikan gambaran lebih lanjut mengenai perjalanan layanan KRL dari masa ke masa.
Mengusung tema bernuansa Jepang, area pameran dihias dengan berbagai ornamen dari Negeri Matahari Terbit tersebut mulai dari Noren kain yang digunakan sebagai tirai di pintu bertuliskan Arigato KRL , Lampion-lampion tradisional Jepang, hingga ornamen bunga sakura.
Dengan konsep yang dikemas dengan baik dan menarik, antusiasme residen pun terlihat sangat tinggi. Hal ini tercermin dari jumlah pengunjung yang tidak pernah sepi.
Di hari weekday pada hari sebelumnya, kita rata-rata pengunjung di atas 1.500. Terus, untuk per pada hari ini, Sabtu tanggal 15, per jam 12 ini, kita sudah menyentuh angka lebih dari 2.000 pengunjung, jelas Tianza, petugas pameran Arigato KRL!
Ia turut menguraikan bahwa para pengunjung yang datang berasal dari berbagai kalangan. Saat weekday , didominasi oleh rombongan anak-anak instansi pendidikan, meskipun pengunjung umum tetap turut meramaikan. Sementara itu, akhir pekan dipadati oleh orang tua yang datang bersama anak-anak mereka.
Ali, pemuda berusia 19 tahun, menceritakan bahwa ia telah menggunakan KRL sejak berusia 2 tahun. Maka, ia datang ke pameran ini untuk bernostalgia dengan melihat deretan foto kereta, terutama rangkaian Tokyu 8500 yang menjadi bagian dari kenangan masa kecilnya.
Pengen ngelihat memori-memori saya masih kecil, foto-fotonya di sini. Saya kan masih kecil dulu, jadi belum ada foto-fotonya, ucap Ali.
Bagi Ali, KRL bukan sekadar sarana transportasi yang menunjang aktivitas sehari-harinya, tetapi juga menjadi tempat yang mampu memberinya ketenangan saat ia sedang stres.
Emang dari kecil yang bikin saya bahagia ya KRL, semua KRL Jepang, lanjutnya.
Sama seperti Ali, Ilham, seorang penggemar kereta api, mengklarifikasi kedatangannya ke pameran untuk mengenang kembali perjalanannya, walaupun yang kereta yang ia naiki bukan Jalita, melainkan rangkaian Tokyu 8500 lainnya.
Saya sebagai penggemar kereta api datang untuk mengenang saja. Walaupun, dulu belum tahu awal-awal datangnya kereta ini. Walaupun, dulu belum pernah sempat naik kereta ini (Jalita), pungkasnya.
Azam (9) dan Zubair (10), yang datang bersama keluarganya berterus terang sangat sangat senang mengunjungi pameran ini. Mereka bisa melihat berbagai miniatur, mempelajari banyak informasi tentang kereta, bahkan berkesempatan masuk ke ruang masinis.
Sang Ibu, Fajri, yang merupakan pengguna KRL semenjak masa sekolah, menyatakan hadirnya tiga rangkaian kereta asal Jepang tersebut membawa peningkatan signifikan pada kenyamanan perjalanan berkat fasilitas yang mereka bawakan.
Zaman dulu kan kereta masih semrawut, ya, kalau sekarang ini pelayanannya sudah lebih baik, ya. Ya, udah AC, kalau dulu kan enggak, jadi ga perlu deh tuh yang namanya keringetan panas-panas, ujar Bu Fajri.
Berbagai harapan pun disampaikan para pengguna untuk peningkatan pelayanan KRL.
Ali berharap KAI dapat mengimpor lebih banyak rangkaian kereta dari Jepang. Ia juga menginginkan agar armada lama tetap dirawat dan dijaga kualitasnya.
Di pihak lain, Fajri mengusulkan penambahan gerbong khusus wanita serta peningkatan fasilitas pendingin udara di stasiun.
Rachel, pengguna KRL harian, turut menyampaikan harapannya agar jumlah gerbong dan petugas di setiap rangkaian diperbanyak sehingga kenyamanan dan keamanan penumpang semakin terjamin.
Baca juga: Mobilisasi Perkotaan Semakin Kuat, JALITA Hadirkan Jejak Sejarah Transformasi KRL Jabodetabek
Baca juga: Mobilisasi Perkotaan Semakin Kuat, JALITA Hadirkan Jejak Sejarah Transformasi KRL Jabodetabek
Baca juga: Mengenal Jalita, KRL Tokyu 8500 legendaris dari Jepang
Baca juga: Mengenal Jalita, KRL Tokyu 8500 legendaris dari Jepang
Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. Berbagai sumber membahas tentang jandaslot88 karena dianggap penting.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. Berbagai sumber membahas tentang jandaslot88 karena dianggap penting. Berbagai sumber membahas tentang jandaslot88 karena dianggap penting.