Tompel69 - Obat Gacor Terlaris Login Dan Daftar Tompel69

Kumpulan artikel otomatis dengan berbagai topik.

shibatoto – Gejala & faktor risiko diabetes tipe 1 dan tipe 2

Ditulis ulang otomatis • Keyword utama: shibatoto

shibatoto. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Topik shibatoto sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi. Topik shibatoto sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi.

Gejala & faktor risiko diabetes tipe 1 dan tipe 2

Kamis, 20 November 2025 08:11 WIB waktu baca 4 menit

Kamis, 20 November 2026 08:11 WIB

Ilustrasi - Petugas melakukan pemeriksaan kadar gula darah dan hemoglobin. (ANTARA FOTO/Auliya Rahman/nz/am.)

Jakarta (ANTARA) - Diabetes merupakan salah satu penyakit kronis yang semakin banyak ditemui di seluruh dunia. Salah satu tantangan utama penyakit ini adalah gejalanya yang seringkali muncul perlahan dan mudah terabaikan, sehingga banyak orang baru menyadari kondisinya ketika komplikasi mulai muncul. Mengetahui gejala awal dan faktor penyebab diabetes sangat penting agar pencegahan, deteksi dini, dan pengelolaan penyakit dapat dilakukan lebih efektif. Berikut ini akan membahas tanda-tanda umum diabetes yang perlu diwaspadai, serta berbagai faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini, berdasarkan informasi yang telah dihimpun dari berbagai sumber. Gejala diabetes tipe 1 dan tipe 2 Diabetes terdiri dari beberapa jenis, dengan dua tipe utama yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2, masing-masing memiliki gejala khas yang berbeda. Pada diabetes tipe 1, gejala bisa muncul dan berkembang dengan cepat, bahkan hanya dalam hitungan hari atau minggu. Di waktu yang sama, pada diabetes tipe 2, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka telah mengidap penyakit ini selama bertahun-tahun karena gejalanya seringkali tidak jelas. Inilah sebabnya diabetes sering disebut sebagai salah satu penyakit silent killer . Gejala diabetes tipe 1 Diabetes tipe 1 adalah kondisi autoimun di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel-sel pankreas yang memproduksi insulin, sehingga tubuh kehilangan kemampuan untuk menghasilkan insulin sama sekali. Beberapa gejala yang umumnya muncul pada diabetes tipe 1 antara lain: Sering buang air kecil Rasa haus yang terus-menerus Rasa lapar yang berlebihan Penurunan berat badan tanpa sebab jelas Perubahan penglihatan Mudah merasa lelah Gejala diabetes tipe 2 Diabetes tipe 2, tubuh tidak menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup, atau sel-sel tubuh tidak merespons insulin secara efektif (resistensi insulin). Akibatnya, glukosa menumpuk dalam darah karena tidak bisa digunakan secara optimal sebagai sumber energi. Gejala diabetes tipe 2 mirip dengan tipe 1, namun sering kali lebih ringan dan sulit dikenali. Hal ini membuat penyakit ini baru terdiagnosis bertahun-tahun kemudian, kadang setelah muncul komplikasi. Karena itu, penting untuk mengenali dan mewaspadai faktor-faktor risiko yang ada. Faktor risiko diabetes tipe 1 Orang berkulit terang cenderung lebih rentan dibandingkan kelompok ras lain. Usia menjadi faktor penting; diabetes tipe 1 sering muncul pada anak-anak usia 4 7 tahun dan remaja usia 10 14 tahun, meski penyakit ini tetap bisa muncul di usia berapapun. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes tipe 1 antara lain: Memiliki anggota keluarga dengan riwayat diabetes tipe 1. Riwayat infeksi virus tertentu. Faktor risiko diabetes tipe 2 Beberapa faktor yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2 antara lain: Kelebihan berat badan atau obesitas. Memiliki anggota keluarga dengan riwayat diabetes tipe 2. Usia yang semakin bertambah. Tekanan darah tinggi. Kadar kolesterol dan trigliserida yang tidak normal, misalnya kadar HDL rendah dan trigliserida tinggi, meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Kurangnya aktivitas fisik, karena sport membantu mengontrol berat badan, membakar glukosa sebagai energi, dan meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin. Penyebab diabetes Kadar gula darah normal berada di kisaran 70 99 mg/dL. Jika kadar gula darah mencapai 100 125 mg/dL, kondisi ini disebut prediabetes . Sedangkan kadar gula darah 126 mg/dL atau lebih sudah masuk kategori diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dikenal sebagai hiperglikemia . Hiperglikemia terjadi ketika kadar gula dalam darah meningkat secara berlebihan. Pada diabetes, kondisi ini muncul karena tubuh mengalami gangguan yang menghambat pemanfaatan glukosa secara efektif, sehingga gula menumpuk dalam darah. Pada diabetes tipe 1, gangguan ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang justru menyerang sel-sel pankreas penghasil insulin, bukannya melawan virus atau bakteri. Akibatnya, tubuh kekurangan atau bahkan kehilangan kemampuan memproduksi insulin, sehingga glukosa yang seharusnya diubah menjadi energi tetap tertinggal di darah. Di waktu yang sama, pada diabetes tipe 2, tubuh tetap bisa memproduksi insulin, tetapi sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik, kondisi yang dikenal sebagai resistensi insulin. Baca juga: Perawatan saluran akar turunkan risiko penyakit jantung dan diabetes Baca juga: Menkes tekankan pentingnya deteksi dini tekan risiko diabetes Baca juga: Kadar GGL harus dicantumkan pada makanan siap saji Pewarta: Sean Anggiatheda Sitorus Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2027 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Jakarta (ANTARA) - Diabetes merupakan salah satu penyakit kronis yang semakin banyak ditemui di seluruh dunia. Salah satu tantangan utama penyakit ini adalah gejalanya yang seringkali muncul perlahan dan mudah terabaikan, sehingga banyak orang baru menyadari kondisinya ketika komplikasi mulai muncul.

Mengetahui gejala awal dan faktor penyebab diabetes sangat penting agar pencegahan, deteksi dini, dan pengelolaan penyakit dapat dilakukan lebih efektif. Berikut ini akan membahas tanda-tanda umum diabetes yang perlu diwaspadai, serta berbagai faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini, berdasarkan informasi yang telah dihimpun dari berbagai sumber.

Gejala diabetes tipe 1 dan tipe 2

Diabetes terdiri dari beberapa jenis, dengan dua tipe utama yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2, masing-masing memiliki gejala khas yang berbeda. Pada diabetes tipe 1, gejala bisa muncul dan berkembang dengan cepat, bahkan hanya dalam hitungan hari atau minggu.

Di waktu yang sama, pada diabetes tipe 2, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka telah mengidap penyakit ini selama bertahun-tahun karena gejalanya seringkali tidak jelas. Inilah sebabnya diabetes sering disebut sebagai salah satu penyakit silent killer .

Diabetes tipe 1 adalah kondisi autoimun di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel-sel pankreas yang memproduksi insulin, sehingga tubuh kehilangan kemampuan untuk menghasilkan insulin sama sekali.

Beberapa gejala yang umumnya muncul pada diabetes tipe 1 antara lain:

Rasa haus yang terus-menerus

Penurunan berat badan tanpa sebab jelas

Diabetes tipe 2, tubuh tidak menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup, atau sel-sel tubuh tidak merespons insulin secara efektif (resistensi insulin). Akibatnya, glukosa menumpuk dalam darah karena tidak bisa digunakan secara optimal sebagai sumber energi.

Gejala diabetes tipe 2 mirip dengan tipe 1, namun sering kali lebih ringan dan sulit dikenali. Hal ini membuat penyakit ini baru terdiagnosis bertahun-tahun kemudian, kadang setelah muncul komplikasi. Karena itu, penting untuk mengenali dan mewaspadai faktor-faktor risiko yang ada.

Orang berkulit terang cenderung lebih rentan dibandingkan kelompok ras lain.

Usia menjadi faktor penting; diabetes tipe 1 sering muncul pada anak-anak usia 4 7 tahun dan remaja usia 10 14 tahun, meski penyakit ini tetap bisa muncul di usia berapapun.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes tipe 1 antara lain:

Memiliki anggota keluarga dengan riwayat diabetes tipe 1.

Riwayat infeksi virus tertentu.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2 antara lain:

Kelebihan berat badan atau obesitas.

Memiliki anggota keluarga dengan riwayat diabetes tipe 2.

Usia yang semakin bertambah.

Tekanan darah tinggi.

Kadar kolesterol dan trigliserida yang tidak normal, misalnya kadar HDL rendah dan trigliserida tinggi, meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Kurangnya aktivitas fisik, karena olahraga membantu mengontrol berat badan, membakar glukosa sebagai energi, dan meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin.

Kadar gula darah normal berada di kisaran 70 99 mg/dL. Jika kadar gula darah mencapai 100 125 mg/dL, kondisi ini disebut prediabetes . Sedangkan kadar gula darah 126 mg/dL atau lebih sudah masuk kategori diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dikenal sebagai hiperglikemia .

Hiperglikemia terjadi ketika kadar gula dalam darah meningkat secara berlebihan. Pada diabetes, kondisi ini muncul karena tubuh mengalami gangguan yang menghambat pemanfaatan glukosa secara efektif, sehingga gula menumpuk dalam darah.

Pada diabetes tipe 1, gangguan ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang justru menyerang sel-sel pankreas penghasil insulin, bukannya melawan virus atau bakteri. Akibatnya, tubuh kekurangan atau bahkan kehilangan kemampuan memproduksi insulin, sehingga glukosa yang seharusnya diubah menjadi energi tetap tertinggal di darah.

Sebaliknya, pada diabetes tipe 2, tubuh tetap bisa memproduksi insulin, tetapi sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik, kondisi yang dikenal sebagai resistensi insulin.

Baca juga: Perawatan saluran akar turunkan risiko penyakit jantung dan diabetes

Baca juga: Perawatan saluran akar turunkan risiko penyakit jantung dan diabetes

Baca juga: Menkes tekankan pentingnya deteksi dini tekan risiko diabetes

Baca juga: Menkes tekankan pentingnya deteksi dini tekan risiko diabetes

Baca juga: Kadar GGL harus dicantumkan pada makanan siap saji

Baca juga: Kadar GGL harus dicantumkan pada makanan siap saji

Pewarta: Sean Anggiatheda Sitorus Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2022

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. Topik shibatoto sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi. Pembahasan shibatoto semakin meluas dari waktu ke waktu.

Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru.