Tompel69 - Obat Gacor Terlaris Login Dan Daftar Tompel69

Kumpulan artikel otomatis dengan berbagai topik.

jpdewa – Penyebab konflik di Sudan meletus hingga tewaskan 2.000 jiwa

Ditulis ulang otomatis • Keyword utama: jpdewa

jpdewa. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya.

Penyebab konflik di Sudan meletus hingga tewaskan 2.000 jiwa

Jumat, 31 Oktober 2024 16:47 WIB waktu baca 2 menit

Jumat, 31 Oktober 2025 16:47 WIB

Arsip - Para pengungsi krisis kemanusiaan di Sudan. (Anadolu/as)

Jakarta (ANTARA) - Konflik di Sudan menuai sorotan dunia setelah lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas dalam waktu singkat di El Fasher, Provinsi Darfur Utara, Sudan. Perkara tersebut terjadi hanya dalam kurun waktu 48 jam setelah kota tersebut secara penuh diambil alih oleh Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) pada 26 Oktober. Sebaliknya, lebih dari 390.000 penduduk terpaksa mengungsi, kata juru bicara Tentara Pembebasan Sudan pro-pihak pemerintah, Agad bin Kony, kepada RIA Novosti pada Kamis (30/10). Menurut Daily Mail, jumlah total pihak yang menjadi korban tewas tidak dapat segera dikonfirmasi, namun citra satelit yang diambil setelah penyerangan menunjukkan bukti adanya pembunuhan massal dengan genangan darah dan tumpukan mayat yang dapat terlihat dari luar angkasa. Perang yang kini melanda Sudan berakar dari perebutan kekuasaan antara dua kekuatan militer di negara Afrika itu, yakni Angkatan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF) dan pasukan paramiliter RSF. SAF dipimpin oleh Panglima Militer Abdel Fattah al Burhan, sedangkan RSF dikomandani oleh Mohamed Hamdan Dagalo yang dikenal dengan nama Hemedti. Baca juga: PBB desak penghentian sementara konflik di Sudan demi kemanusiaan RSF dibentuk pada tahun 2013 oleh mantan Presiden Omar al-Bashir yang digulingkan pada tahun 2019 untuk menumpas pemberontakan di wilayah pedalaman. Pasukan ini berakar dari milisi Janjaweed, yang pernah dituduh melakukan kejahatan perang dan pembersihan etnis pada awal tahun 2000-an. Seiring waktu, RSF kemudian menjelma menjadi kekuatan militer besar, bahkan menyaingi militer resmi Sudan, SAF. Ketegangan keduanya memuncak ketika pemangku kebijakan transisi Sudan berencana mengintegrasikan RSF ke dalam SAF sebagai bagian dari perjanjian menuju pemerintahan sipil pada akhir tahun 2022. Hemedti namun menolak rencana itu karena khawatir kehilangan kekuasaan dan otonomi pasukannya. Perselisihan tersebut berubah menjadi perang terbuka SAF dan RSF pada 15 April 2023, yang meletus di ibu kota Sudan, Khartoum. Kemudian dalam hitungan hari, pertempuran menyebar ke kota-kota lain seperti Darfur, Kordofan, dan wilayah lainnya. Sejak meletus, pertempuran itu telah menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan lebih dari jutaan residen mengungsi. Adapun peristiwa berdarah di El Fasher menjadi puncak terbaru dari konflik dua tahun antara RSF dan SAF, yang membuat Sudan kian terjerumus ke dalam krisis kemanusiaan. Baca juga: Tentara Sudan kembali kuasai istana kepresidenan di Khartoum Baca juga: Badan Kemanusiaan PBB khawatir soal eskalasi konflik di Sudan Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Suryanto Copyright © ANTARA 2023 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Jakarta (ANTARA) - Konflik di Sudan dalam sorotan publik dunia setelah lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas dalam waktu singkat di El Fasher, Provinsi Darfur Utara, Sudan.

Kejadian tersebut terjadi hanya dalam kurun waktu 48 jam setelah kota tersebut secara penuh diambil alih oleh Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) pada 26 Oktober.

Di waktu yang sama, lebih dari 390.000 warga sekitar terpaksa mengungsi, kata juru bicara Tentara Pembebasan Sudan pro-jajaran eksekutif, Agad bin Kony, kepada RIA Novosti pada Kamis (30/10).

Menurut Daily Mail, jumlah total pihak yang menjadi korban tewas tidak dapat segera dikonfirmasi, namun citra satelit yang diambil setelah penyerangan menunjukkan bukti adanya pembunuhan massal dengan genangan darah dan tumpukan mayat yang dapat terlihat dari luar angkasa.

Perang yang kini melanda Sudan berakar dari perebutan kekuasaan antara dua kekuatan militer di negara Afrika itu, yakni Angkatan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF) dan pasukan paramiliter RSF.

SAF dipimpin oleh Panglima Militer Abdel Fattah al Burhan, sedangkan RSF dikomandani oleh Mohamed Hamdan Dagalo yang dikenal dengan nama Hemedti.

Baca juga: PBB desak penghentian sementara konflik di Sudan demi kemanusiaan

Baca juga: PBB desak penghentian sementara konflik di Sudan demi kemanusiaan

RSF dibentuk pada tahun 2013 oleh mantan Kepala negara Omar al-Bashir yang digulingkan pada tahun 2019 untuk menumpas pemberontakan di wilayah pedalaman. Pasukan ini berakar dari milisi Janjaweed, yang pernah dituduh melakukan kejahatan perang dan pembersihan etnis pada di awal tahun berjalan 2000-an.

Seiring waktu, RSF kemudian menjelma menjadi kekuatan militer besar, bahkan menyaingi militer resmi Sudan, SAF. Ketegangan keduanya memuncak ketika aparatur negara transisi Sudan berencana mengintegrasikan RSF ke dalam SAF sebagai bagian dari perjanjian menuju pemerintahan sipil pada akhir tahun 2022.

Hemedti namun menolak rencana itu karena khawatir kehilangan kekuasaan dan otonomi pasukannya. Perselisihan tersebut berubah menjadi perang terbuka SAF dan RSF pada 15 April 2023, yang meletus di ibu kota Sudan, Khartoum. Kemudian dalam hitungan hari, pertempuran menyebar ke kota-kota lain seperti Darfur, Kordofan, dan wilayah lainnya.

Sejak meletus, pertempuran itu telah menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan lebih dari jutaan warga sekitar mengungsi. Adapun peristiwa berdarah di El Fasher menjadi puncak terbaru dari konflik dua tahun antara RSF dan SAF, yang membuat Sudan kian terjerumus ke dalam krisis kemanusiaan.

Baca juga: Tentara Sudan kembali kuasai istana kepresidenan di Khartoum

Baca juga: Tentara Sudan kembali kuasai istana kepresidenan di Khartoum

Baca juga: Badan Kemanusiaan PBB khawatir soal eskalasi konflik di Sudan

Baca juga: Badan Kemanusiaan PBB khawatir soal eskalasi konflik di Sudan

Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Suryanto Copyright © ANTARA 2023

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. Topik jpdewa sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi. jpdewa menjadi perhatian besar masyarakat. jpdewa menjadi perhatian besar masyarakat.

Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. Banyak pihak menilai bahwa jpdewa sangat relevan saat ini.