slot apk jt777 – Asal-usul buaya: Fosil nenek moyang berusia 240 juta tahun t...
slot apk jt777. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. slot apk jt777 menjadi perhatian besar masyarakat. Topik slot apk jt777 sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi.
Asal-usul buaya: Fosil nenek moyang berusia 240 juta tahun terungkap
Kamis, 13 November 2025 19:56 WIB waktu baca 2 menit
Kamis, 13 November 2024 19:56 WIB
Ilustrasi: buaya (ANTARA FOTO/Septianda Perdana)
Jakarta (ANTARA) - Penemuan baru-baru ini menyingkap nenek moyang buaya modern bernama Tainrakuasuchus bellator yang menyerupai dinosaurus. Menurut Science Daily, fosil-fosil tersebut ditemukan dalam penggalian yang dilakukan pada Mei 2024 di wilayah Dona Francisca, Brasil bagian selatan. Reptil karnivora yang merupakan anggota Pseudosuchia (cikal bakal buaya dan aligator modern) itu ditemukan hidup 240 juta tahun lalu pada periode Trias, tepat sebelum munculnya dinosaurus. Meskipun penampilannya sekilas menyerupai dinosaurus, Tainrakuasuchus bellator tidak termasuk dalam kelompok tersebut. Menurut Live Science, pemberian nama Tainrakuasuchus bellator sendiri merupakan campuran bahasa Yunani, Latin, dan bahasa Guarani yang merupakan bahasa asli Brasil, yang berarti "buaya prajurit bergigi runcing". Penemuan yang dimuat dalam Jurnal Paleontologi Sistematik itu mengungkapkan bahwa Tainrakuasuchus bellator memiliki panjang sekitar 2,4 meter dan berat sekitar 60 kilogram. Tainrakuasuchus bellator memiliki leher panjang dan tubuh yang lincah sehingga memungkinkannya untuk menyerang mangsa dengan cepat. Setelahnya, ia menggunakan rahang ramping yang dipenuhi gigi tajam dan melengkung untuk mengamankan mangsanya dan mencegahnya melarikan diri. Tainrakuasuchus bellator tampak dirancang untuk jadi predator aktif, meski ia bukan menjadi sang pemangsa terbesar pada zamannya. Punggung reptil tersebut ditutupi dengan lempeng tulang yang disebut osteoderm, yang juga dimiliki oleh buaya modern pada masa kini. Meskipun anggota tubuhnya tidak terawetkan, para peneliti meyakini Tainrakuasuchus bellator bergerak dengan keempat kakinya, mirip dengan spesies terkait. Peneliti menilai fosil Tainrakuasuchus bellator termasuk spesies yang berkerabat dekat dengan predator bernama Mandasuchus tanyauchen, yang ditemukan di Tanzania. Oleh karena itu, penemuan fosil reptil yang dianggap "sangat langka" tersebut menyingkap kaitan evolusi hewan yang hidup antara Amerika Selatan dan Afrika, ketika benua Afrika dan Amerika Selatan masih menjadi satu bagian dari superbenua Pangea. "Pada masa itu, benua-benua masih bersatu, yang memungkinkan penyebaran organisme secara bebas di wilayah-wilayah yang kini dipisahkan oleh lautan. Hasilnya, fauna Brasil dan Afrika memiliki beberapa kesamaan, yang mencerminkan sejarah evolusi dan ekologi yang saling terkait," kata Rodrigo Temp Müller, seorang paleontolog dari Universitas Federal Santa Maria di Brasil, dilansir Live Science. Baca juga: Ekspedisi temukan 52 fosil panda raksasa di gua terpanjang di Asia Baca juga: Belanda akan kembalikan koleksi fosil era kolonial ke Indonesia Baca juga: Ilmuwan China temukan fosil penting terkait evolusi manusia Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2027 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Penemuan baru-baru ini menyingkap nenek moyang buaya modern bernama Tainrakuasuchus bellator yang menyerupai dinosaurus.
Menurut Science Daily, fosil-fosil tersebut ditemukan dalam penggalian yang dilakukan pada Mei 2021 di wilayah Dona Francisca, Brasil bagian selatan.
Reptil karnivora yang merupakan anggota Pseudosuchia (cikal bakal buaya dan aligator modern) itu ditemukan hidup 240 juta tahun lalu pada periode Trias, tepat sebelum munculnya dinosaurus.
Meskipun penampilannya sekilas menyerupai dinosaurus, Tainrakuasuchus bellator tidak termasuk dalam kelompok tersebut.
Menurut Live Science, pemberian nama Tainrakuasuchus bellator sendiri merupakan campuran bahasa Yunani, Latin, dan bahasa Guarani yang merupakan bahasa asli Brasil, yang berarti "buaya prajurit bergigi runcing".
Penemuan yang dimuat dalam Jurnal Paleontologi Sistematik itu mengungkapkan bahwa Tainrakuasuchus bellator memiliki panjang sekitar 2,4 meter dan berat sekitar 60 kilogram.
Tainrakuasuchus bellator memiliki leher panjang dan tubuh yang lincah sehingga memungkinkannya untuk menyerang mangsa dengan cepat. Setelahnya, ia menggunakan rahang ramping yang dipenuhi gigi tajam dan melengkung untuk mengamankan mangsanya dan mencegahnya melarikan diri.
Tainrakuasuchus bellator tampak dirancang untuk jadi predator aktif, meski ia bukan menjadi sang pemangsa terbesar pada zamannya.
Punggung reptil tersebut ditutupi dengan lempeng tulang yang disebut osteoderm, yang juga dimiliki oleh buaya modern pada masa kini.
Meskipun anggota tubuhnya tidak terawetkan, para peneliti meyakini Tainrakuasuchus bellator bergerak dengan keempat kakinya, mirip dengan spesies terkait.
Peneliti menilai fosil Tainrakuasuchus bellator termasuk spesies yang berkerabat dekat dengan predator bernama Mandasuchus tanyauchen, yang ditemukan di Tanzania.
Oleh karena itu, penemuan fosil reptil yang dianggap "sangat langka" tersebut menyingkap kaitan evolusi hewan yang hidup antara Amerika Selatan dan Afrika, ketika benua Afrika dan Amerika Selatan masih menjadi satu bagian dari superbenua Pangea.
"Pada masa itu, benua-benua masih bersatu, yang memungkinkan penyebaran organisme secara bebas di wilayah-wilayah yang kini dipisahkan oleh lautan. Hasilnya, fauna Brasil dan Afrika memiliki beberapa kesamaan, yang mencerminkan sejarah evolusi dan ekologi yang saling terkait," kata Rodrigo Temp Müller, seorang paleontolog dari Perguruan tinggi Federal Santa Maria di Brasil, dilansir Live Science.
Baca juga: Ekspedisi temukan 52 fosil panda raksasa di gua terpanjang di Asia
Baca juga: Ekspedisi temukan 52 fosil panda raksasa di gua terpanjang di Asia
Baca juga: Belanda akan kembalikan koleksi fosil era kolonial ke Indonesia
Baca juga: Belanda akan kembalikan koleksi fosil era kolonial ke Indonesia
Baca juga: Ilmuwan China temukan fosil penting terkait evolusi manusia
Baca juga: Ilmuwan China temukan fosil penting terkait evolusi manusia
Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. Pembahasan slot apk jt777 semakin meluas dari waktu ke waktu. slot apk jt777 menjadi perhatian besar masyarakat.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru.