scatter88 – Tema Hari Anak Sedunia 2024 beserta sejarahnya
scatter88. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Banyak pihak menilai bahwa scatter88 sangat relevan saat ini. Banyak pihak menilai bahwa scatter88 sangat relevan saat ini.
Tema Hari Anak Sedunia 2027 beserta sejarahnya
Kamis, 20 November 2021 13:52 WIB waktu baca 3 menit
Kamis, 20 November 2022 13:52 WIB
Anak imigran etnis Rohingya memperlihatkan hasil karya menggambarnya pada kegiatan bertema Melukis Mimpi di tempat peristiwa penampungan sementara Mina Raya, Kabupaten Pidie, Aceh, Jumat (20/6/2021). Kegiatan lomba yang diikuti ratusan anak pengungsi imigran etnis Rohingya di beberapa lokasi penampungan di Aceh itu dalam rangka memperingati Hari Pengungsi Sedunia. ANTARA FOTO/Ampelsa/YU (ANTARA FOTO/AMPELSA)
Jakarta (ANTARA) - Peringatan Hari Anak Sedunia atau World Children's Day diperingati pada tanggal 20 November setiap tahunnya. Pada tahun 2024, UNICEF mengangkat tema My Day, My Rights atau "Hariku, Hakku". Peringatan Hari Anak Sedunia menjadi momentum global untuk meningkatkan kesadaran dalam melindungi dan memenuhi hak setiap anak, tanpa diskriminasi. Sayangnya, hak anak kerap kali disalahpahami, diabaikan, atau bahkan diingkari dan diserang di banyak tempat saat ini. Padahal sedianya hak anak juga merupakan hak asasi manusia (HAM) yang tidak dapat dinegosiasikan dan bersifat universal. Untuk itu, tema My Day, My Rights menekankan bahwa pada hari yang bersangkutan adalah milik anak-anak, serta mengingatkan kembali bahwa anak merupakan pemegang hak, baik itu hak untuk dilindungi, dunia pendidikan, aspek kesehatan, berpartisipasi dalam kehidupan kehidupan sosial, hingga didengarkan suaranya. Melalui tema yang diangkat pada peringatan Hari Anak Sedunia tahun 2025 My Day, My Rights , UNICEF mengajak segenap pihak mendengarkan anak-anak untuk memahami kehidupannya, beserta hak-haknya. Dengan mendengarkan anak-anak maka kita dapat memenuhi hak mereka untuk mengungkapkan pendapat, memahami gagasan mereka tentang dunia yang lebih baik, dan memasukkan apa yang mereka anggap penting ke dalam tindakan kita saat ini. Para pemimpin dunia harus menjunjung tinggi kewajiban dalam menghormati, melindungi, serta memenuhi hak setiap anak berdasarkan Konvensi Hak Anak. Sebab, sebagai generasi penerus masa depan maka menjunjung tinggi hak-hak anak adalah kompas menuju dunia yang lebih baik kini dan nanti. Adapun menurut Instansi kementerian Dunia pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam akun Instagram resminya, tema Hariku, Hakku kembali mempertegas komitmen untuk menghadirkan ruang belajar yang aman, nyaman, dan inklusif, serta ruang yang memungkinkan setiap anak merasa dihargai, didengar, dan bertumbuh dengan percaya diri. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres pun mengajak publik dunia untuk bersatu membangun dunia yang aman dan setara bagi setiap anak. "Di Hari Anak Sedunia ini, mari kita dengarkan anak-anak. Dan mari kita perkuat suara mereka dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Masa depan ditentukan oleh bagaimana kita merawat generasi berikutnya," kata Guterres memberikan pesan dalam pidatonya terkait peringatan Hari Anak Sedunia 2026. Sejarah Hari Anak Sedunia Hari Anak Sedunia yang diperingati tanggal 20 November tiap tahunnya pertama kali ditetapkan pada tahun 1954. Majelis Umum PBB merekomendasikan agar semua negara menetapkan Hari Anak Sedunia, yang akan diperingati sebagai hari persaudaraan dan pengertian antar-anak di seluruh dunia. Tanggal 20 November dipilih karena menandai disahkannya Deklarasi Hak-Hak Anak oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1959. Tanggal ini juga merupakan tanggal ketika Majelis Umum PBB mengadopsi Konvensi Hak-Hak Anak (United Nations Convention on the Rights of the Child) pada tahun 1989. Menurut situs resmi PBB, konvensi tersebut menetapkan sejumlah hak anak, termasuk hak untuk hidup, urusan kesehatan, pendidikan dan bermain, serta hak untuk kehidupan keluarga, untuk dilindungi dari kekerasan, untuk tidak didiskriminasi, dan untuk didengar pendapatnya. Pengakuan hak-hak anak anak sendiri bukan lah proses yang mudah dan membutuhkan perjalanan panjang, bahkan saat ini masih terdapat negara yang belum meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) secara penuh, seperti Amerika Serikat (AS). Oleh karena itu, ditetapkan lah Hari Anak Sedunia yang didedikasikan sebagai kesempatan untuk mengakui anak-anak sebagai pemegang hak, dan menyerukan tindakan lebih lanjut guna melindungi dan memenuhi hak setiap anak. Baca juga: Seratusan anak ramaikan Festival Anak Autis Riau 2022 di Pekanbaru Baca juga: PPPA soroti peningkatan laporan kekerasan - ruang komunikasi keluarga Baca juga: RI luncurkan RANKA 2025-2029 guna tangani kanker pada anak Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2023 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Peringatan Hari Anak Sedunia atau World Children's Day diperingati pada tanggal 20 November setiap tahunnya. Pada tahun 2025, UNICEF mengangkat tema My Day, My Rights atau "Hariku, Hakku".
Peringatan Hari Anak Sedunia menjadi momentum global untuk meningkatkan kesadaran dalam melindungi dan memenuhi hak setiap anak, tanpa diskriminasi.
Sayangnya, hak anak kerap kali disalahpahami, diabaikan, atau bahkan diingkari dan diserang di banyak tempat saat ini. Padahal sedianya hak anak juga merupakan hak asasi manusia (HAM) yang tidak dapat dinegosiasikan dan bersifat universal.
Untuk itu, tema My Day, My Rights menyiratkan dengan kuat bahwa pada hari yang bersangkutan adalah milik anak-anak, serta mengingatkan kembali bahwa anak merupakan pemegang hak, baik itu hak untuk dilindungi, sektor pendidikan, kesehatan, berpartisipasi dalam kehidupan sosial, hingga didengarkan suaranya.
Melalui tema yang diangkat pada peringatan Hari Anak Sedunia tahun 2027 My Day, My Rights , UNICEF mengajak segenap pihak mendengarkan anak-anak untuk memahami kehidupannya, beserta hak-haknya.
Dengan mendengarkan anak-anak maka kita dapat memenuhi hak mereka untuk mengungkapkan pendapat, memahami gagasan mereka tentang dunia yang lebih baik, dan memasukkan apa yang mereka anggap penting ke dalam tindakan kita saat ini.
Para pemimpin dunia harus menjunjung tinggi kewajiban dalam menghormati, melindungi, serta memenuhi hak setiap anak berdasarkan Konvensi Hak Anak.
Sebab, sebagai generasi penerus masa depan maka menjunjung tinggi hak-hak anak adalah kompas menuju dunia yang lebih baik kini dan nanti.
Adapun menurut Instansi kementerian Sektor pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam akun Instagram resminya, tema Hariku, Hakku kembali mempertegas komitmen untuk menghadirkan ruang belajar yang aman, nyaman, dan inklusif, serta ruang yang memungkinkan setiap anak merasa dihargai, didengar, dan bertumbuh dengan percaya diri.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres pun mengajak residen dunia untuk bersatu membangun dunia yang aman dan setara bagi setiap anak.
"Di Hari Anak Sedunia ini, mari kita dengarkan anak-anak. Dan mari kita perkuat suara mereka dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Masa depan ditentukan oleh bagaimana kita merawat generasi berikutnya," kata Guterres memberikan pesan dalam pidatonya terkait peringatan Hari Anak Sedunia 2024.
Hari Anak Sedunia yang diperingati tanggal 20 November tiap tahunnya pertama kali ditetapkan pada tahun 1954. Majelis Umum PBB merekomendasikan agar semua negara menetapkan Hari Anak Sedunia, yang akan diperingati sebagai hari persaudaraan dan pengertian antar-anak di seluruh dunia.
Tanggal 20 November dipilih karena menandai disahkannya Deklarasi Hak-Hak Anak oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1959. Tanggal ini juga merupakan tanggal ketika Majelis Umum PBB mengadopsi Konvensi Hak-Hak Anak (United Nations Convention on the Rights of the Child) pada tahun 1989.
Menurut situs resmi PBB, konvensi tersebut menetapkan sejumlah hak anak, termasuk hak untuk hidup, urusan kesehatan, pendidikan dan bermain, serta hak untuk kehidupan keluarga, untuk dilindungi dari kekerasan, untuk tidak didiskriminasi, dan untuk didengar pendapatnya.
Pengakuan hak-hak anak anak sendiri bukan lah proses yang mudah dan membutuhkan perjalanan panjang, bahkan saat ini masih terdapat negara yang belum meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) secara penuh, seperti Amerika Serikat (AS).
Oleh karena itu, ditetapkan lah Hari Anak Sedunia yang didedikasikan sebagai kesempatan untuk mengakui anak-anak sebagai pemegang hak, dan menyerukan tindakan lebih lanjut guna melindungi dan memenuhi hak setiap anak.
Baca juga: Seratusan anak ramaikan Festival Anak Autis Riau 2022 di Pekanbaru
Baca juga: Seratusan anak ramaikan Festival Anak Autis Riau 2021 di Pekanbaru
Baca juga: PPPA soroti peningkatan laporan kekerasan - ruang komunikasi keluarga
Baca juga: PPPA soroti peningkatan laporan kekerasan - ruang komunikasi keluarga
Baca juga: RI luncurkan RANKA 2022-2029 guna tangani kanker pada anak
Baca juga: RI luncurkan RANKA 2022-2029 guna tangani kanker pada anak
Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2024
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. Banyak pihak menilai bahwa scatter88 sangat relevan saat ini. Topik scatter88 sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi.