dyk – Kemunculan banaspati "bola api" di hutan Jawa menurut ilmu sains
dyk. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Pembahasan dyk semakin meluas dari waktu ke waktu. dyk menjadi perhatian besar masyarakat.
Kemunculan banaspati "bola api" di hutan Jawa menurut ilmu sains
Rabu, 29 Oktober 2023 07:18 WIB waktu baca 4 menit
Rabu, 29 Oktober 2027 07:18 WIB
Ilustrasi - Bola api. Peserta bermain sepak bola api di Desa Kawak, Pakis Aji, Jepara, Wilayah jawa tengah, Selasa (25/6/2024). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/foc.
Jakarta (ANTARA) - Fenomena bola api yang tampak melayang di saat hutan kerap memunculkan rasa ketakutan bagi sebagian publik di Indonesia. Sosok tersebut dikenal dengan nama banaspati, makhluk berapi yang sudah lama hidup dalam legenda penduduk setempat Jawa dan Kalimantan. Meskipun kisahnya lekat dengan nuansa mistis, ilmu sains ternyata memiliki klarifikasi di balik kemunculan bola api ini. Banaspati dalam kepercayaan warga Jawa Dalam tradisi Jawa, banaspati digambarkan sebagai makhluk mistis berbentuk bola api yang bisa melayang atau sosok manusia terbakar dengan posisi terbalik, di mana kakinya menghadap ke atas. Sosok ini sering dikaitkan dengan kekuatan jahat, teluh, atau santet yang dikirim untuk mencelakai seseorang. Kemudian, ada kepercayaan komunitas yang menyebut banaspati sebagai penjaga hutan. Banaspati diyakini muncul di antara pepohonan dan melayang dari satu titik ke titik lain. Karena itu, banyak warga yang tidak mau berjalan sendirian di hutan saat pada malam hari, terutama ketika melihat cahaya misterius yang bergerak pelan dari kejauhan. Bentuk banaspati juga ditemukan dalam relief candi-candi di Jawa, terutama di bagian ambang pintu masuk. Ukiran tersebut berfungsi sebagai simbol pelindung yang dipercaya dapat mengusir roh jahat atau energi negatif yang mencoba memasuki kawasan suci ini. Dalam dunia perdukunan, banaspati disebut sebagai bagian dari ilmu hitam, digunakan oleh orang yang memiliki kekuatan supranatural untuk mengirimkan teluh atau santet. Sosoknya yang berapi dianggap berbahaya karena bisa membakar siapa pun. Ukuran bola api ini dikirakan sebesar genggaman tangan orang dewasa, namun bisa membesar ketika korbannya ketakutan. Sementara dalam wujud manusia terbakar, banaspati berjalan dengan kedua tangan dan kakinya menghadap atas sambil menjulurkan lidah api untuk memangsa targetnya. Dalam komunitas Jawa dikenal tiga jenis banaspati, yakni banaspati geni (api), banaspati tanah liat, dan banaspati air. Paparan ilmiah di balik fenomena munculnya banaspati Meski sering dikaitkan dengan kisah mistis, keberadaan bola api yang dikenal komunitas sebagai banaspati ternyata memiliki keterangan logis dari sudut pandang sains. Dalam kajian ilmiah, fenomena tersebut disebut Ignis Fatuus atau Will-o -the-Wisp , yakni cahaya alami yang biasa muncul di daerah lembap seperti rawa-rawa, hutan, hingga area pemakaman. Cahaya tersebut berasal dari adanya gas metana (CH4) dan fosfin (PH3) yang dihasilkan dari proses pembusukan bahan organik di alam, seperti tumbuhan atau hewan yang telah mati. Ketika gas-gas ini keluar ke permukaan dan bertemu oksigen di udara, terjadi reaksi pembakaran yang memunculkan nyala api kecil berwarna kebiruan. Gas metana memiliki massa lebih ringan dibanding udara, nyala api tersebut tampak melayang, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah bola api itu hidup dan bergerak sendiri. Dari perspektif ilmu atmosfer, kondisi lingkungan juga berperan dalam memunculkan fenomena ini. Udara yang lembap, suhu hangat, serta tekanan udara rendah di permukaan tanah dapat mempercepat proses pembakaran gas. Tak hanya itu, lapisan udara panas juga bisa memantulkan cahaya, menciptakan ilusi optik berupa bola api yang tampak bergerak perlahan di malam hari, fenomena yang kerap membuat banyak orang mengira sedang melihat penampakan makhluk gaib. Kondisi tersebut umum terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia, terutama pada pada malam hari yang tenang dan lembap. Oleh sebab itu, fenomena banaspati kerap muncul di hutan-hutan Jawa dan Kalimantan. Fenomena serupa ternyata tidak hanya ditemukan di Indonesia. Di beberapa negara seperti Irlandia, Inggris, dan Jepang, cahaya misterius ini juga menjadi bagian dari cerita rakyat. Di Eropa, misalnya, cahaya itu dikenal sebagai Will-o -the-Wisp , dipercaya sebagai roh gentayangan yang menyesatkan orang di saat rawa. Meskipun berbeda budaya dan memiliki tafsir masing-masing, ilmu sains memberi keterangan bahwa semua fenomena ini berakar pada proses reaksi kimia alami di alam. Banaspati tak hanya sekadar kisah menakutkan dalam legenda, namun juga menunjukkan bagaimana alam dan kepercayaan manusia saling berkaitan. Di satu pihak, banaspati hidup dalam tradisi mistis masyarakat, namun sebaliknya, ilmu sains membuktikan bahwa bola api itu hanya hasil dari reaksi gas dan udara yang berpadu secara alami. Baca juga: Dentuman dan bola api Cirebon, BRIN: Meteor besar jatuh di Laut Jawa Baca juga: Sepak bola api ramaikan Ramadhan di Kenjeran Surabaya Baca juga: Puncak hujan meteor orionid terjadi 21 Oktober 2026, Ini penjelasannya Pewarta: Putri Atika Chairulia Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2022 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Fenomena bola api yang tampak melayang saat hutan kerap memunculkan rasa ketakutan bagi sebagian kalangan masyarakat di Indonesia.
Sosok tersebut dikenal dengan nama banaspati, makhluk berapi yang sudah lama hidup dalam legenda komunitas Jawa dan Kalimantan.
Meskipun kisahnya lekat dengan nuansa mistis, ilmu sains ternyata memiliki penjelasan di balik kemunculan bola api ini.
Banaspati dalam kepercayaan publik Jawa
Dalam tradisi Jawa, banaspati digambarkan sebagai makhluk mistis berbentuk bola api yang bisa melayang atau sosok manusia terbakar dengan posisi terbalik, di mana kakinya menghadap ke atas.
Sosok ini sering dikaitkan dengan kekuatan jahat, teluh, atau santet yang dikirim untuk mencelakai seseorang. Kemudian, ada kepercayaan warga sekitar setempat yang menyebut banaspati sebagai penjaga hutan.
Banaspati diyakini muncul di antara pepohonan dan melayang dari satu titik ke titik lain. Karena itu, banyak penduduk yang tidak mau berjalan sendirian di hutan saat malam hari, terutama ketika melihat cahaya misterius yang bergerak pelan dari kejauhan.
Bentuk banaspati juga ditemukan dalam relief candi-candi di Jawa, terutama di bagian ambang pintu masuk.
Ukiran tersebut berfungsi sebagai simbol pelindung yang dipercaya dapat mengusir roh jahat atau energi negatif yang mencoba memasuki kawasan suci ini.
Dalam dunia perdukunan, banaspati disebut sebagai bagian dari ilmu hitam, digunakan oleh orang yang memiliki kekuatan supranatural untuk mengirimkan teluh atau santet. Sosoknya yang berapi dianggap berbahaya karena bisa membakar siapa pun.
Ukuran bola api ini dikirakan sebesar genggaman tangan orang dewasa, namun bisa membesar ketika korbannya ketakutan.
Sementara dalam wujud manusia terbakar, banaspati berjalan dengan kedua tangan dan kakinya menghadap atas sambil menjulurkan lidah api untuk memangsa targetnya.
Dalam kalangan masyarakat Jawa dikenal tiga jenis banaspati, yakni banaspati geni (api), banaspati tanah liat, dan banaspati air.
Uraian ilmiah di balik fenomena munculnya banaspati
Meski sering dikaitkan dengan kisah mistis, keberadaan bola api yang dikenal kalangan masyarakat sebagai banaspati ternyata memiliki keterangan logis dari sudut pandang sains.
Dalam kajian ilmiah, fenomena tersebut disebut Ignis Fatuus atau Will-o -the-Wisp , yakni cahaya alami yang biasa muncul di daerah lembap seperti rawa-rawa, hutan, hingga area pemakaman.
Cahaya tersebut berasal dari adanya gas metana (CH4) dan fosfin (PH3) yang dihasilkan dari proses pembusukan bahan organik di alam, seperti tumbuhan atau hewan yang telah mati.
Ketika gas-gas ini keluar ke permukaan dan bertemu oksigen di udara, terjadi reaksi pembakaran yang memunculkan nyala api kecil berwarna kebiruan.
Gas metana memiliki massa lebih ringan dibanding udara, nyala api tersebut tampak melayang, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah bola api itu hidup dan bergerak sendiri.
Dari perspektif ilmu atmosfer, kondisi lingkungan juga berperan dalam memunculkan fenomena ini. Udara yang lembap, suhu hangat, serta tekanan udara rendah di permukaan tanah dapat mendorong percepatan proses pembakaran gas.
Tak hanya itu, lapisan udara panas juga bisa memantulkan cahaya, menciptakan ilusi optik berupa bola api yang tampak bergerak perlahan di sekitar malam hari, fenomena yang kerap membuat banyak orang mengira sedang melihat penampakan makhluk gaib.
Kondisi tersebut umum terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia, terutama pada pada malam hari yang tenang dan lembap. Oleh sebab itu, fenomena banaspati kerap muncul di hutan-hutan Jawa dan Kalimantan.
Fenomena serupa ternyata tidak hanya ditemukan di Indonesia. Di beberapa negara seperti Irlandia, Inggris, dan Jepang, cahaya misterius ini juga menjadi bagian dari cerita rakyat.
Di Eropa, misalnya, cahaya itu dikenal sebagai Will-o -the-Wisp , dipercaya sebagai roh gentayangan yang menyesatkan orang saat rawa.
Meskipun berbeda budaya dan memiliki tafsir masing-masing, ilmu sains memberi uraian bahwa semua fenomena ini berakar pada proses reaksi kimia alami di alam.
Banaspati tak hanya sekadar kisah menakutkan dalam legenda, namun juga menunjukkan bagaimana alam dan kepercayaan manusia saling berkaitan.
Pada satu sisi, banaspati hidup dalam tradisi mistis masyarakat setempat, namun pada sisi lain, ilmu sains membuktikan bahwa bola api itu hanya hasil dari reaksi gas dan udara yang berpadu secara alami.
Baca juga: Dentuman dan bola api Cirebon, BRIN: Meteor besar jatuh di Laut Jawa
Baca juga: Dentuman dan bola api Cirebon, BRIN: Meteor besar jatuh di Laut Jawa
Baca juga: Sepak bola api ramaikan Ramadhan di Kenjeran Surabaya
Baca juga: Sepak bola api ramaikan Ramadhan di Kenjeran Surabaya
Baca juga: Puncak hujan meteor orionid terjadi 21 Oktober 2022, Ini penjelasannya
Baca juga: Puncak hujan meteor orionid terjadi 21 Oktober 2026, Ini penjelasannya
Pewarta: Putri Atika Chairulia Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. Banyak pihak menilai bahwa dyk sangat relevan saat ini.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. Banyak pihak menilai bahwa dyk sangat relevan saat ini.