slot16 – Profil Arsul Sani, Hakim Konstitusi yang datang dari politisi
slot16. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Topik slot16 sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi. Berbagai sumber membahas tentang slot16 karena dianggap penting.
Profil Arsul Sani, Aparatur peradilan Konstitusi yang datang dari politisi
Senin, 17 November 2023 18:46 WIB waktu baca 3 menit
Senin, 17 November 2022 18:46 WIB
Hakim Mahkamah Konstitusi Arsul Sani menunjukan dokumen legalisasi saat konferensi pers di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Senin (17/11/2024). Saat menggelar konferensi pers terkait tuduhan ketidakabsahan gelar doktor yang diperolehnya tersebut Arsul Sani menyatakan tegas keabsahan ijazah doktoralnya di Collegium Humanum Warsaw Management University, Polandia yang lulus pada Juni 2022 dengan menunjukkan bukti-bukti perjalanan studi doktoralnya. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/nz.
Jakarta (ANTARA) - Arsul Sani yang merupakan politikus dilantik sebagai Penegak hukum di pengadilan Konstitusi pada 18 Januari 2024. Ia diajukan sebagai Aparatur peradilan Konstitusi oleh DPR RI untuk menggantikan Wahiduddin Adams yang purna tugas karena memasuki usia pensiun. Pelantikan itu didasarkan pada Keputusan Orang nomor satu di pemerintahan (Keppres) RI Nomor 102 P Tahun 2023 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Penegak hukum di pengadilan Konstitusi yang diajukan oleh DPR, yang ditetapkan pada 24 Oktober 2023. Sebelum duduk di kursi Penegak hukum di pengadilan Konstitusi, Arsul telah malang melintang sebagai praktisi hukum hingga ranah politik di Tanah Air, mulai dari aktif dalam berbagai organisasi dan partai dunia politik hingga lembaga bantuan hukum. Dengan bekal sektor pendidikan yang pernah ia timba, ia pun pernah menduduki sejumlah jabatan strategis di kursi pucuk pimpinan DPR RI dan MPR RI, hingga partai Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Berikut profil Arsul Sani yang dapat disimak. Arsul lahir di Pekalongan pada 8 Januari 1964. Ia lahir dari latar belakang keluarga religius, di mana ayahnya merupakan seorang ulama Nahdlatul Ulama (NU) yakni Kiai Haji Abdullah Fadjari. Ia menempuh sektor pendidikan bangku satuan pendidikan dari SD hingga SMA di Pekalongan, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) pada 1982, dan berhasil meraih gelar sarjana hukum pada tahun 1987. Setelahnya, ia melanjutkan dunia pendidikan pasca-sarjana graduate diploma on Advance Comparative Law the Common Law di University of Technology Sydney (UTS) pada 2003. Ia juga menempuh dunia pendidikan magister corporate communication di London School of Public Relations (LSPR) Jakarta dan lulus pada 2007. Arsul sempat menempuh sektor pendidikan S3 pada bidang justice, policy and welfare studies di Glasgow School for Business and Society, Glasgow Caledonian University (GCU), Skotlandia, namun tidak tuntas. Kemudian ia melanjutkan studi Doktor Ilmu Hukum di Collegium Humanum Warsaw Management University, Polandia pada 2023. Ia memulai karier di bidang hukum dengan menjadi asisten pembela umum sukarela (volunteer lawyer) di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta pada tahun 1986-1988. Ia kemudian menjadi advokat di firma hukum Gani Djemat and Partners, serta sempat menjadi visiting lawyer di firma hukum Dunhil Madden Butler di Sydney, Australia, pada 1993-1994. Pada tahun 1997, ia mendirikan firma hukumnya sendiri, Karim Sani, yang kemudian berubah menjadi SAP Advocates pada tahun 2004. Ia dikenal sebagai seorang praktisi hukum dan arbiter sebelum masuk ke dunia ranah politik. Kariernya sebagai legislator dimulai ketika ia terpilih sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 2014 melalui PPP. Sejak Mei 2016, ia pun dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PPP. Arsul kemudian berhasil mempertahankan kursinya di Senayan dengan kembali terpilih sebagai anggota DPR RI pada Kontestasi elektoral 2019. Di Senayan, Arsul duduk di Alat kelengkapan dewan III DPR RI yang membidangi ihwal penegakan hukum. Sebagai legislator, ia juga sempat duduk di kursi anggota Badan Legislasi (Baleg) dan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI. Pada 3 Oktober 2019, ia pun dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI. Adapun dalam urusan organisasi, Arsul pernah menjadi Ketua Himpunan Pelajar perguruan tinggi Islam (HMI) Komisariat Fakultas Hukum UI dan Senat Civitas akademika mahasiswa Fakultas Hukum UI. Ia juga pernah menjadi sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat DPN Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) pada 2020-2023 hingga Chairman of Indonesian Corporate Counsel Association (ICCA) pada 2006-2008. Sementara di bidang kemasyarakatan, ia sempat menjabat sebagai Sekretaris Umum Pengurus Yayasan Asrama Pelajar Islam (1996-2003); Ketua Pengawas Yayasan Al-Azhar Rawamangun (2005-2007); dan Wakil Ketua Bidang di Lembaga Penyuluh dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (2005-2010). Arsul dilaporkan menikah dengan Sukma Violetta, mantan Wakil Ketua Seksi Yudisial yang menjabat dari tahun 206 hingga 2018. Dari pernikahannya yang digelar pada tahun 1992 tersebut, ia dikarunia tiga orang anak. Baca juga: Arsul Sani tidak akan laporkan balik penuduh ijazah palsu Baca juga: Arsul Sani tak ingin suuzan terkait laporan dugaan ijazah palsu Baca juga: Arsul Sani tunjukkan ijazah asli usai dilaporkan soal ijazah palsu Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2024 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Arsul Sani yang merupakan politikus dilantik sebagai Hakim Konstitusi pada 18 Januari 2024. Ia diajukan sebagai Penegak hukum di pengadilan Konstitusi oleh DPR RI untuk menggantikan Wahiduddin Adams yang purna tugas karena memasuki usia pensiun.
Pelantikan itu didasarkan pada Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 102 P Tahun 2023 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Penegak hukum di pengadilan Konstitusi yang diajukan oleh DPR, yang ditetapkan pada 24 Oktober 2023.
Sebelum duduk di kursi Aparatur peradilan Konstitusi, Arsul telah malang melintang sebagai praktisi hukum hingga ranah politik di Tanah Air, mulai dari aktif dalam berbagai organisasi dan partai dunia politik hingga lembaga bantuan hukum. Dengan bekal dunia pendidikan yang pernah ia timba, ia pun pernah menduduki sejumlah jabatan strategis di kursi pucuk pimpinan DPR RI dan MPR RI, hingga partai Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Berikut profil Arsul Sani yang dapat disimak.
Arsul lahir di Pekalongan pada 8 Januari 1964. Ia lahir dari latar belakang keluarga religius, di mana ayahnya merupakan seorang ulama Nahdlatul Ulama (NU) yakni Kiai Haji Abdullah Fadjari.
Ia menempuh dunia pendidikan bangku instansi pendidikan dari SD hingga SMA di Pekalongan, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi ke Fakultas Hukum Kampus Indonesia (UI) pada 1982, dan berhasil meraih gelar sarjana hukum pada tahun 1987.
Setelahnya, ia melanjutkan dunia pendidikan pasca-sarjana graduate diploma on Advance Comparative Law the Common Law di University of Technology Sydney (UTS) pada 2003. Ia juga menempuh dunia pendidikan magister corporate communication di London School of Public Relations (LSPR) Jakarta dan lulus pada 2007.
Arsul sempat menempuh pendidikan S3 pada bidang justice, policy and welfare studies di Glasgow School for Business and Society, Glasgow Caledonian University (GCU), Skotlandia, namun tidak tuntas. Kemudian ia melanjutkan studi Doktor Ilmu Hukum di Collegium Humanum Warsaw Management University, Polandia pada 2023.
Ia memulai karier di bidang hukum dengan menjadi asisten pembela umum sukarela (volunteer lawyer) di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta pada tahun 1986-1988. Ia kemudian menjadi advokat di firma hukum Gani Djemat and Partners, serta sempat menjadi visiting lawyer di firma hukum Dunhil Madden Butler di Sydney, Australia, pada 1993-1994.
Pada tahun 1997, ia mendirikan firma hukumnya sendiri, Karim Sani, yang kemudian berubah menjadi SAP Advocates pada tahun 2004. Ia dikenal sebagai seorang praktisi hukum dan arbiter sebelum masuk ke dunia politik.
Kariernya sebagai legislator dimulai ketika ia terpilih sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 2014 melalui PPP. Sejak Mei 2016, ia pun dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PPP. Arsul kemudian berhasil mempertahankan kursinya di Senayan dengan kembali terpilih sebagai anggota DPR RI pada Kontestasi elektoral 2019.
Di Senayan, Arsul duduk di Panitia III DPR RI yang membidangi ihwal penegakan hukum. Sebagai legislator, ia juga sempat duduk di kursi anggota Badan Legislasi (Baleg) dan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI. Pada 3 Oktober 2019, ia pun dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI.
Adapun dalam urusan organisasi, Arsul pernah menjadi Ketua Himpunan Civitas akademika mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Hukum UI dan Senat Civitas akademika mahasiswa Fakultas Hukum UI. Ia juga pernah menjadi sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat DPN Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) pada 2020-2023 hingga Chairman of Indonesian Corporate Counsel Association (ICCA) pada 2006-2008.
Sementara di bidang kehidupan sosial, ia sempat menjabat sebagai Sekretaris Umum Pengurus Yayasan Asrama Pelajar Islam (1996-2003); Ketua Pengawas Yayasan Al-Azhar Rawamangun (2005-2007); dan Wakil Ketua Bidang di Lembaga Penyuluh dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (2005-2010).
Arsul diketahui menikah dengan Sukma Violetta, mantan Wakil Ketua Panitia Yudisial yang menjabat dari tahun 206 hingga 2018. Dari pernikahannya yang digelar pada tahun 1992 tersebut, ia dikarunia tiga orang anak.
Baca juga: Arsul Sani tidak akan laporkan balik penuduh ijazah palsu
Baca juga: Arsul Sani tidak akan laporkan balik penuduh ijazah palsu
Baca juga: Arsul Sani tak ingin suuzan terkait laporan dugaan ijazah palsu
Baca juga: Arsul Sani tak ingin suuzan terkait laporan dugaan ijazah palsu
Baca juga: Arsul Sani tunjukkan ijazah asli usai dilaporkan soal ijazah palsu
Baca juga: Arsul Sani tunjukkan ijazah asli usai dilaporkan soal ijazah palsu
Pewarta: Melalusa Susthira Khalida Editor: Alviansyah Pasaribu Copyright © ANTARA 2024
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA. Topik slot16 sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru. Banyak pihak menilai bahwa slot16 sangat relevan saat ini.