Montpellier bantah tuduhan rasisme mantan pemainnya Mary Fowler – contoh sura...
contoh surat permohonan pejabat pengadaan barang dan jasa. Informasi berikut disusun ulang dari berbagai sumber terpercaya. Pembahasan contoh surat permohonan pejabat pengadaan barang dan jasa semakin meluas dari waktu ke waktu.
Montpellier bantah tuduhan rasisme mantan pemainnya Mary Fowler
Jumat, 21 November 2022 02:32 WIB waktu baca 3 menit
Jumat, 21 November 2025 02:32 WIB
Ilustrasi - Sepak bola wanita. ANTARA/Pixabay/pri. (ANTARA/Pixabay)
Jakarta (ANTARA) - Klub sepak bola putri Prancis Montpellier membantah tuduhan rasisme yang dilontarkan penyerang tim nasional Australia Mary Fowler yang berujar bahwa seorang rekan setim memberinya pisang sebagai hadiah perpisahan pada 2022. Montpellier dalam pernyataannya pada Kamis mengungkapkan mereka mengetahui dengan rasa terkejut sejumlah tuduhan yang dibuat Fowler dalam memoarnya berjudul Bloom, dan menyebut tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut. Beberapa tuduhan itu sangat serius, dan kesimpulan yang muncul seolah-olah klub adalah entitas rasis, tidak dapat diterima, demikian pernyataan Montpellier dikutip dari Fox Sports, Jumat. Fowler berusia 17 tahun saat bergabung dengan Montpellier pada 2020 dan bermain selama 2,5 musim sebelum pindah ke Manchester City. Dalam bukunya, Fowler menulis bahwa ia dan rekannya, Ashleigh Weerden, tidak dilibatkan dalam presentasi untuk para personel tim yang akan meninggalkan klub setelah laga kandang terakhir musim itu. Pada pertandingan para personel tim yang akan hengkang diberikan rangkaian bunga. Setelahnya, ketika kami masuk ruang ganti, beberapa rekan bertanya mengapa kami tidak menerima bunga, tulis Fowler, mengutip kutipan bukunya yang dimuat media Australia. Kami hanya mengangkat bahu, sama bingungnya dengan mereka. Beberapa atlet tertawa, lalu salah satu pemain lain datang dan memberikan pisang kepada saya dan teman saya sambil berkata, Ambil ini. Itu benar-benar jadi puncaknya. Baca juga: Lens hancurkan Monaco 4-1, Marseille hajar Brest Fowler mengatakan bahwa setelah meninggalkan Montpellier, ia dan temannya sudah beberapa kali membahas peristiwa itu. Ia mengungkap bahwa tidak terlalu memusingkan dirinya tidak mendapat karangan bunga, namun diberi pisang bukan hal yang dianggapnya sebagai lelucon. Montpellier memberikan paparan berbeda. Secara faktual, kebenaran tidak menyisakan ruang untuk interpretasi, ujar klub. Pada 1 Juni 2022, tim putri memainkan laga kandang terakhir melawan Bordeaux. Seperti tradisi beberapa musim terakhir, dua atlet yang kontraknya habis, dan tampil untuk terakhir kali dengan seragam klub, diberikan bunga. Ini tidak berlaku bagi Mary Fowler maupun rekan yang disebutkan dalam bukunya, karena keduanya masih terikat perjanjian kerja hingga 30 Juni 2023. Karena itu akan tidak tepat memberikan mereka hadiah perpisahan." Terkait dugaan peristiwa di ruang ganti, klub menuturkan telah berkonsultasi dengan semua yang hadir pada hari itu dan menyimpulkan tidak ada bukti yang mendukung cerita Fowler. Rasisme adalah isu serius yang tidak boleh dieksploitasi. Klub menyatakan dengan tegas kembali komitmennya untuk memerangi segala bentuk diskriminasi, kata Montpellier. Baca juga: AFC ingatkan pemerintah Malaysia tak boleh campuri urusan FAM Baca juga: Indonesia ukir sejarah dengan lolos ke Piala Dunia Sepak Bola CP 2026 Pewarta: A Rauf Andar Adipati Editor: Eka Arifa Rusqiyati Copyright © ANTARA 2022 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Jakarta (ANTARA) - Klub sepak bola putri Prancis Montpellier membantah keras tuduhan tersebut rasisme yang dilontarkan penyerang tim nasional Australia Mary Fowler yang menyampaikan bahwa seorang rekan setim memberinya pisang sebagai hadiah perpisahan pada 2022.
Montpellier dalam pernyataannya pada Kamis menjelaskan mereka mengetahui dengan rasa terkejut sejumlah tuduhan yang dibuat Fowler dalam memoarnya berjudul Bloom, dan menyebut tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut.
Beberapa tuduhan itu sangat serius, dan kesimpulan yang muncul seolah-olah klub adalah entitas rasis, tidak dapat diterima, demikian pernyataan Montpellier dikutip dari Fox Sports, Jumat.
Fowler berusia 17 tahun saat bergabung dengan Montpellier pada 2020 dan bermain selama 2,5 musim sebelum pindah ke Manchester City.
Dalam bukunya, Fowler menulis bahwa ia dan rekannya, Ashleigh Weerden, tidak dilibatkan dalam presentasi untuk para pemain yang akan meninggalkan klub setelah laga kandang terakhir musim itu. Pada partai para skuad yang akan hengkang diberikan rangkaian bunga.
Setelahnya, ketika kami masuk ruang ganti, beberapa rekan bertanya mengapa kami tidak menerima bunga, tulis Fowler, mengutip kutipan bukunya yang dimuat media Australia.
Kami hanya mengangkat bahu, sama bingungnya dengan mereka. Beberapa skuad tertawa, lalu salah satu atlet lain datang dan memberikan pisang kepada saya dan teman saya sambil berkata, Ambil ini. Itu benar-benar jadi puncaknya.
Baca juga: Lens hancurkan Monaco 4-1, Marseille hajar Brest
Fowler menyampaikan bahwa setelah meninggalkan Montpellier, ia dan temannya sudah beberapa kali membahas perkara itu. Ia mengungkap bahwa tidak terlalu memusingkan dirinya tidak mendapat karangan bunga, namun diberi pisang bukan hal yang dianggapnya sebagai lelucon.
Montpellier memberikan paparan berbeda.
Secara faktual, kebenaran tidak menyisakan ruang untuk interpretasi, ujar klub.
Pada 1 Juni 2022, tim putri memainkan laga kandang terakhir melawan Bordeaux. Seperti tradisi beberapa musim terakhir, dua personel tim yang kontraknya habis, dan tampil untuk terakhir kali dengan seragam klub, diberikan bunga. Ini tidak berlaku bagi Mary Fowler maupun rekan yang disebutkan dalam bukunya, karena keduanya masih terikat perjanjian kerja hingga 30 Juni 2023. Karena itu akan tidak tepat memberikan mereka hadiah perpisahan."
Terkait dugaan kasus di ruang ganti, klub mengatakan telah berkonsultasi dengan semua yang hadir pada hari itu dan menyimpulkan tidak ada bukti yang mendukung cerita Fowler.
Rasisme adalah isu serius yang tidak boleh dieksploitasi. Klub menggarisbawahi kembali komitmennya untuk memerangi segala bentuk diskriminasi, kata Montpellier.
Baca juga: AFC ingatkan jajaran eksekutif Malaysia tak boleh campuri urusan FAM
Baca juga: AFC ingatkan pihak pemerintah Malaysia tak boleh campuri urusan FAM
Baca juga: Indonesia ukir sejarah dengan lolos ke Piala Dunia Sepak Bola CP 2026
Baca juga: Indonesia ukir sejarah dengan lolos ke Piala Dunia Sepak Bola CP 2026
Pewarta: A Rauf Andar Adipati Editor: Eka Arifa Rusqiyati Copyright © ANTARA 2024
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan terbaru.